JOMBANG, KabarJombang.com – Harga sejumlah bahan pokok pasca perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kabupaten Jombang mulai menunjukkan tren penurunan, meski belum signifikan. Dua komoditas utama, yakni beras dan telur, tercatat mengalami penyesuaian harga secara bertahap.
Pantauan di Pasar Pon dan Pasar Legi pada Senin (5/1/2026) menunjukkan harga telur ayam ras berada di kisaran Rp27.500 hingga Rp28.500 per kilogram. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode menjelang Nataru, ketika harga sempat menembus Rp29.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Kenaikan harga sebelumnya terjadi secara bertahap sejak pertengahan Desember 2025.
Sementara itu, harga telur ayam kampung terpantau di kisaran Rp48.000 per kilogram. Kondisi lonjakan harga telur pada akhir tahun lalu sempat menambah tekanan ekonomi rumah tangga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Berbeda dengan telur, harga beras relatif stabil. Beras medium dijual di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram, sedangkan beras premium berada pada rentang Rp15.500 hingga Rp16.500 per kilogram. Harga tersebut tidak mengalami perubahan berarti baik sebelum maupun setelah perayaan Nataru.
Salah satu pedagang di Pasar Pon, Sri Arista, mengungkapkan bahwa kenaikan harga telur mulai terasa sekitar sepekan sebelum Nataru. Menurutnya, meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan menjadi pemicu utama naiknya harga.
“Menjelang Nataru biasanya permintaan telur naik karena banyak warga yang membuat kue atau memasak untuk acara keluarga. Setelah tahun baru, harga kembali turun. Alhamdulillah sekarang sudah mulai stabil,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan pedagang telur lainnya, Lika (50). Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga telur terjadi secara perlahan dan cukup konsisten beberapa pekan sebelum Nataru. Selain permintaan, faktor pasokan dari peternak juga memengaruhi harga di tingkat pedagang.
“Harga dari peternak biasanya naik lebih dulu, jadi kami sebagai pedagang mau tidak mau harus menyesuaikan. Kalau tidak, bisa merugi,” jelasnya.
Dari sisi konsumen, kenaikan harga telur sempat menjadi beban tambahan di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga. Suhartatik (52), seorang ibu rumah tangga, mengaku harus lebih cermat mengatur pengeluaran saat harga bahan pokok melonjak.
“Telur itu lauk yang paling sering dikonsumsi di rumah. Kalau harganya naik terus, ya harus lebih berhemat. Alhamdulillah sekarang sudah turun,” katanya.
Kenaikan harga bahan pokok tidak hanya dipengaruhi momentum hari besar keagamaan, tetapi juga faktor struktural seperti distribusi, biaya produksi, dan ketersediaan stok. Pedagang dan masyarakat berharap tren penurunan harga ini dapat terus berlanjut agar daya beli tetap terjaga dan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi dengan harga yang terjangkau (Ramadhanny Ilmianto).









