MOJOWARNO, KabarJombang.com – Di tengah sunyinya masa pandemi Covid-19 pada 2021, sekelompok ibu rumah tangga di Dusun/Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, memilih bangkit. Berawal dari pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, mereka kini menjelma menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui Sentra Tenun Wastra Sejahtera.
Siti Khoirul Uma (41), salah satu pengelola mengatakan, pihaknya ingin memberdayakan para ibu-ibu mantan buruh pabrik sarung yang menjadi korban PHK untuk kembali bisa berkarya dan tetap produktif di tengah tugas mulianya sebagai ibu rumah tangga serta merawat anak-anaknya.
“Waktu itu pabrik tempat ibu-ibu bekerja tutup karena corona. Daripada berhenti total, akhirnya kami mulai produksi sendiri dan memberdayalan mereka. Rata-rata mereka rumahnya ya sekitar tempat sentra ini, tetangga-tetangga,” ujar Uma saat diwawancarai pada Selasa (23/12/2025).
Produksi kain tenun di Wastra Sejahtera tidak instan. Prosesnya dimulai dari memintal benang, lalu dilanjutkan ke tahap midang, yakni menghitung dan menata benang. Setelah itu, benang digambar sesuai motif, diikat, dan dicelupkan ke warna yang diinginkan.
“Setelah dicelup, benang diurai, dipalet, baru kemudian ditenun. Tahap terakhir biasanya penjahitan atau penyambungan kain,” jelas Uma.
Untuk satu potong kain, waktu pengerjaan rata-rata sekitar dua hari, tergantung tingkat kesulitan motif dan kondisi mesin. Dalam kondisi normal, para penenun mampu menghasilkan hingga tiga potong kain per minggu.
Dalam proses produksi, tantangan tak bisa dihindari. Mesin tenun yang kerap rewel serta benang yang mudah putus atau kusut sering kali memperlambat pengerjaan. “Kalau kendala muncul, proses yang biasanya cepat bisa jadi lama,” katanya.
Meski begitu, semangat para perajin tetap terjaga. Saat ini, sentra tenun tersebut melibatkan sekitar 15 pekerja, mayoritas ibu-ibu. Ada yang bekerja langsung di sentra untuk menenun dan midang, sementara sisanya mengerjakan pencelupan warna dan proses awal dari rumah.
Wastra Sejahtera memproduksi beragam hasil tenun, mulai dari sarung goyor, kain lurik, kain motif, kain dobi (kain timbul), hingga selendang warna alam yang kini menjadi produk unggulan. Selain itu, mereka juga memproduksi blangket dan produk terbaru berupa tirai bambu.
“Selendang warna alam masih jadi bestseller karena banyak diminati pecinta tenun,” ungkap Uma.
Harga produk bervariasi, mulai dari Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per potong, dengan harga tertinggi untuk kain bermotif tertentu.
Para pekerja di sentra ini menggunakan sistem borongan. Upah midang berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, menenun sarung Rp45 ribu per potong, kain Rp75 ribu, dan selendang sekitar Rp30 ribu.
Dari usaha tersebut, Sentra Tenun Wastra Sejahtera mampu mencatatkan omzet sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan. Pemasaran dilakukan melalui media sosial, pelanggan tetap, serta kerja sama promosi. Produk mereka bahkan telah menjangkau pasar luar pulau, seperti Kalimantan.
Ke depan, Uma berharap Wastra Sejahtera semakin dikenal luas dan menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar.
“Harapannya ke depan lebih bagus lagi, lebih berkarya, dan menginspirasi banyak orang. Semoga semakin banyak yang datang dan mengenal Tenun Wastra Sejahtera,” tuturnya.
Ia juga memberi pesan khusus untuk para perempuan perajin. “Untuk ibu-ibu, tetap semangat dan terus berkarya. Kalian luar biasa,” pesanya.
Menurutnya, dari sebuah krisis, Sentra Tenun Wastra Sejahtera membuktikan bahwa ketekunan dan kebersamaan mampu menenun harapan baru sehelai demi sehelai.









