MOJOWARNO, KabarJombang.com – Bulan suci Ramadan membawa berkah bagi para perajin sarung goyor tenun tradisional di Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Permintaan sarung goyor melonjak tajam hingga lebih dari 100 persen dibandingkan bulan-bulan biasa.
Produksi rumahan yang biasanya mampu menghasilkan sekitar 54 lembar sarung per bulan kini harus bekerja ekstra untuk memenuhi lonjakan pesanan. Para perajin bahkan lembur demi mengejar target pengiriman menjelang Hari Raya Idulfitri.
Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari pembeli perorangan untuk kebutuhan ibadah Salat Id, pondok pesantren, hingga sejumlah perusahaan yang menjadikan sarung goyor sebagai suvenir bagi karyawan.
Tak hanya dari wilayah Jombang, permintaan juga berdatangan dari luar daerah seperti Banyumas hingga Kalimantan.
Pengelola usaha sarung goyor tenun, Siti Khoirul Uma, mengaku bersyukur atas peningkatan pesanan yang signifikan tahun ini.
“Alhamdulillah pesanan tahun ini sangat banyak, terutama saat Ramadan. Kenaikannya lebih dari 100 persen. Sarung goyor ini bisa menyesuaikan cuaca, kalau musim panas terasa adem, kalau musim dingin terasa hangat,” ujarnya pada Selasa (3/3/2026).
Keistimewaan tersebut menjadi salah satu alasan tingginya minat pembeli. Sarung goyor dikenal memiliki karakter kain yang mampu menyesuaikan suhu tubuh dengan kondisi cuaca sekitar, sehingga nyaman digunakan sepanjang musim.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan teknik tradisional, mulai dari pengolahan benang, penggulungan secara manual, hingga proses menenun menggunakan alat tenun bukan mesin. Setiap lembar sarung dikerjakan dengan ketelitian tinggi demi menjaga kualitas serta motif khasnya.
Untuk harga, sarung goyor tenun tradisional ini dibanderol sekitar Rp250 ribu per lembar. Meski tergolong premium, kualitas bahan dan kenyamanan yang ditawarkan membuat produk ini tetap diminati, khususnya pada momentum Ramadan.
Para perajin berharap tren peningkatan pesanan tidak hanya terjadi saat Ramadan, tetapi juga berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, usaha tenun tradisional ini dapat terus bertahan sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap lestari.









