Berkah Ramadan, Perajin Jidor Drum Bekas di Plemahan, Sumobito, Jombang Kebanjiran Pesanan

Foto: Ardani, salah satu pengrajin jidor dari drum bekas asal Desa Plemahan, Sumobito, Jombang. (Istimewa)
  • Whatsapp

SUMOBITO, KabarJombang.com – Suara dentuman jidor mulai ramai terdengar dari sudut Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, menjelang waktu berbuka. Irama khas yang identik dengan bulan suci itu berasal dari bengkel sederhana milik seorang perajin lokal yang memanfaatkan drum bekas menjadi alat musik bernilai ekonomi.

Adalah Ardani, warga setempat yang dalam dua tahun terakhir menekuni produksi jidor berbahan dasar drum logam tak terpakai. Di samping rumahnya, tumpukan drum yang sebelumnya terbengkalai kini berubah menjadi instrumen tabuh yang banyak dicari saat Ramadan.

Baca Juga

Gagasan tersebut lahir dari kejelian membaca peluang. Melihat banyaknya drum bekas yang tidak dimanfaatkan, Ardani tergerak untuk mengolahnya menjadi jidor, alat musik tradisional yang lazim digunakan untuk membangunkan sahur hingga memeriahkan perayaan Idulfitri.

Berbekal pembelajaran otodidak melalui media sosial, ia mulai bereksperimen. Upaya itu membuahkan hasil ketika produk pertamanya mendapat respons positif dari masyarakat.

“Awalnya hanya mencoba sendiri, belajar dari internet. Ternyata setelah jadi, banyak yang tertarik,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Meski terlihat sederhana, pembuatan jidor memerlukan ketelitian agar menghasilkan suara yang kuat dan stabil. Drum dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran, kemudian bagian atasnya dipasangi kulit kambing jantan sebagai membran.

Pemilihan kulit kambing jantan dilakukan karena teksturnya lebih tebal dan kokoh. Material tersebut dinilai mampu menghasilkan resonansi suara yang dalam serta lebih tahan lama. Tahap pemasangan dan pengencangan tali menjadi faktor penentu kualitas bunyi yang dihasilkan.

Dalam kondisi cuaca mendukung, Ardani mampu merampungkan hingga lima unit jidor per hari. Namun, proses produksi sangat dipengaruhi sinar matahari untuk pengeringan kulit agar hasilnya maksimal.

Memasuki Ramadan, aktivitas di bengkel Ardani meningkat tajam. Pesanan datang tidak hanya dari wilayah Jombang, tetapi juga dari Sidoarjo, Surabaya, hingga sejumlah daerah di Jawa Tengah.

“Harga bervariasi sesuai dengan model. Jidor satu sisi dijual sekitar Rp900 ribu per unit. Sementara tipe dua sisi dibanderol Rp1,8 juta, dan versi lengkap dapat mencapai Rp2 juta,” terangnya.

Selama musim Ramadan, omzet yang diraih bisa menembus Rp30 juta hingga Rp35 juta. Pendapatan tersebut menjadi sumber utama penopang kebutuhan keluarga sepanjang tahun.

Bagi Ardani, setiap dentuman jidor memiliki makna lebih dari sekadar penanda waktu sahur. Di balik suara yang menggema, terdapat ketekunan, kreativitas, serta keberanian mengolah barang bekas menjadi produk bernilai tinggi.

“Yang penting sabar, tekun, dan terus berinovasi supaya limbah bisa jadi barang berkualitas,” tuturnya.

Berita Terkait