JOMBANG, KabarJombang.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, menetapkan sembilan ulama sepuh sebagai anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA). Kesembilan kiai tersebut dipilih berdasarkan hasil rekapitulasi suara dari sejumlah unsur kepengurusan NU di seluruh Indonesia.
Penetapan anggota AHWA menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Proses penentuan anggota AHWA dilakukan melalui tabulasi suara yang berasal dari akumulasi usulan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
Berdasarkan rekapitulasi nasional dari enam bilik penghitungan suara, KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso memperoleh dukungan tertinggi. Ia mengantongi total 485 suara atau sekitar 10,3 persen dari keseluruhan suara yang dihimpun.
Posisi berikutnya ditempati TGK KH Nuruzzahri Yahya atau yang dikenal dengan Waled NU, dengan perolehan 477 suara atau sekitar 10,1 persen.
Sementara itu, tujuh ulama lainnya juga masuk dalam jajaran sembilan anggota AHWA berdasarkan jumlah dukungan yang diperoleh.
Dalam mekanisme organisasi NU, AHWA memiliki peran strategis dalam proses penetapan Rais ‘Aam PBNU. Setelah sembilan ulama tersebut ditetapkan sebagai anggota AHWA, mereka mendapatkan mandat untuk melakukan musyawarah guna menentukan Rais ‘Aam PBNU untuk masa khidmah berikutnya.
“Kesembilan ulama sepuh yang telah ditetapkan ini selanjutnya menjalankan mandat organisasi untuk bermusyawarah memilih dan menetapkan Rais ‘Aam PBNU,” demikian mekanisme yang dijelaskan dalam rangkaian agenda penetapan AHWA Muktamar ke-35 NU.
Dengan ditetapkannya sembilan anggota AHWA tersebut, tahapan Muktamar ke-35 NU memasuki proses penting berikutnya, yakni musyawarah para ulama yang tergabung dalam AHWA untuk menentukan sosok yang akan memimpin jajaran Syuriyah PBNU sebagai Rais ‘Aam pada masa khidmah mendatang.
Berikut susunan sembilan anggota AHWA Muktamar ke-35 NU berdasarkan perolehan suara:
KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) – 485 suara (10,3 persen)
TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) – 477 suara (10,1 persen)
AG Dr KH Baharuddin HS, MA – 392 suara (8,3 persen)
KH Miftachul Akhyar – 350 suara (7,4 persen)
KH Afifuddin Muhajir – 339 suara (7,2 persen)
KH Anwar Iskandar – 326 suara (6,9 persen)
KH Anwar Manshur (Lirboyo) – 303 suara (6,4 persen)
Prof Dr KH Said Aqil Siroj – 273 suara (5,8 persen)
Dr KH Abun Bunyamin, MA – 268 suara (5,7 persen)
Hasil tersebut menunjukkan bahwa KH Nurul Huda Djazuli menjadi ulama dengan dukungan suara paling banyak dalam proses pemilihan anggota AHWA. Selisih perolehan suaranya dengan Waled Nu yang berada di urutan kedua mencapai delapan suara.









