JOMBANG, KabarJombang.com-Malam 1 Suro merupakan salah satu momen yang sakral dalam tradisi masyarakat Jawa.
Malam pergantian Tahun Baru Jawa yang bertepatan dengan bulan Suro, bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang dianggap memiliki makna spiritual dan budaya yang mendalam.
Malam 1 Suro kerap diisi dengan berbagai ritual dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Meski merujuk pada kalender Jawa, perayaan tersebut tidak hanya dilakukan masyarakat di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai daerah lain di Nusantara.
Lantas, apa saja ritual di malam 1 Suro?
Di bawah ini telah menyajikan informasi berbagai ritual malam 1 Suro serta maknanya yang dirangkum dari beberapa jurnal dan laman Museum Sonohudoyo. Yuk, simak selengkapnya!
Daftar Ritual Malam 1 Suro di Indonesia
Berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi dan ritual tersendiri dalam menyambut malam 1 Suro. Tradisi-tradisi ini menjadi bagian dari kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dilestarikan hingga kini.
Berikut beberapa ritual malam 1 Suro yang dikenal di masyarakat Nusantara:
- Kirab Muharram
Kirab Muharram merupakan tradisi yang identik dengan perayaan malam 1 Suro di lingkungan Keraton Surakarta. Dalam prosesi ini, kerbau putih atau bule milik keturunan Kiai Slamet diarak mengelilingi kawasan keraton bersama para abdi dalem.
Hewan tersebut dianggap hewan kesayangan Susuhunan dan dianggap keramat dan menjadi bagian dari tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
- Ngadulang
Ngadulang adalah tradisi suroan (1 Suro) yang dilakukan masyarakat di Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini biasanya melibatkan berbagai acara budaya dan perlombaan yang diikuti masyarakat setempat. Salah satu yang paling khas adalah lomba menabuh bedug.
- Nganggung
Nganggung merupakan tradisi makan bersama yang berkembang di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Dalam tradisi ini, warga membawa dulang atau nampan berisi nasi, lauk-pauk, dan berbagai hidangan lainnya ke masjid atau tempat berkumpul.
Setelah doa bersama, makanan tersebut disantap secara bersama-sama sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur.
- Pawai Obor
Pawai obor menjadi salah satu tradisi yang banyak dijumpai dalam peringatan Tahun Baru Islam, terutama di Banten dan sejumlah daerah lainnya. Kegiatan Pawai obor dilakukan masyarakat dengan pawai berkeliling dengan memegang obor dan masyarakat mengenakan pakaian muslim berwarna putih.
- Bubur Asura
Tradisi Bubur Asura dikenal di sejumlah daerah, seperti Kalimantan, Garut, Tasikmalaya, dan Limbangan di Jawa Barat.
Masyarakat memasak bubur merah dan bubur putih secara gotong royong untuk kemudian dibagikan atau disantap bersama.
Acara ini biasanya disertai pembacaan shalawat, doa, dan dzikir sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan akan keberkahan di tahun yang baru.
Meski memiliki bentuk yang berbeda-beda, berbagai ritual malam 1 Suro tersebut pada dasarnya mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, serta semangat menyambut tahun baru dengan doa dan harapan yang lebih baik.
- Tradisi Bari’an
Tradisi Bari’an merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan masyarakat Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dalam menyambut malam 1 Suro atau 1 Muharram.
Meski dikenal di Kudus, tradisi serupa juga dapat ditemukan di sejumlah daerah lain dengan bentuk pelaksanaan yang hampir sama.
Dalam tradisi ini, warga secara gotong royong mengumpulkan dana untuk membeli seekor kambing yang kemudian disembelih menjelang 1 Suro. Penyembelihan biasanya dilakukan di area pertigaan, perempatan jalan, atau lokasi yang telah disepakati bersama oleh warga setempat.
Daging kambing yang telah disembelih kemudian dimasak dan dibagikan secara merata kepada masyarakat. Pembagian tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan doa bersama dan tahlilan yang dihadiri perwakilan keluarga atau seluruh anggota keluarga.
Masyarakat biasanya membawa nasi beserta wadah untuk menerima kuah masakan yang telah disiapkan.
Rangkaian doa bersama umumnya dilaksanakan pada sore hari setelah sholat Ashar hingga menjelang Magrib sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan keselamatan yang telah diberikan.
Setelah acara selesai, makanan yang dibawa pulang kemudian disantap bersama keluarga di rumah.
Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan manaqib yang biasanya diikuti kaum laki-laki.
Acara ini ditutup dengan doa bersama dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan serta mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Selain itu, sebagian masyarakat juga mengisi malam 1 Suro dengan kegiatan berjaga semalaman atau melek’an. Tradisi ini diisi dengan berbincang bersama, berkumpul dengan tetangga, hingga menikmati berbagai hiburan rakyat.
Melalui Tradisi Bari’an, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, serta ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah.
- Jamasan Pusaka
Jamasan Pusaka adalah ritual pembuka dari tradisi malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta. Pada prosesi ini tosan aji, kereta, gamelan, dan semua benda sakral dicuci, dimandikan dengan penuh khidmat. Ritual ini berfungsi sebagai penghormatan kepada leluhur, dan sekaligus pengingat akan tanggung jawab menjaga warisan. [2]
- Tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng
Tapa Bisu Mubeng Beteng merupakan salah satu tradisi yang digelar masyarakat Yogyakarta dalam menyambut malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa.
Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan malam pergantian tahun yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta pada malam hari.
Secara harfiah, tapa bisu berarti berdiam diri tanpa berbicara, sedangkan mubeng beteng berarti mengelilingi benteng keraton.
Sesuai namanya, tradisi ini dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Prosesi biasanya diawali oleh para abdi dalem Keraton Yogyakarta yang kemudian diikuti masyarakat umum.
Selama perjalanan, seluruh peserta diwajibkan menjaga keheningan dan tidak mengeluarkan suara sebagai bentuk laku prihatin, pengendalian diri, serta sarana introspeksi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Tradisi ini memiliki makna mendalam, yakni mengajak setiap peserta untuk melakukan perenungan, mengevaluasi diri, serta memanjatkan harapan agar memperoleh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan pada tahun yang akan datang.
Rute Tapa Bisu Mubeng Beteng menempuh jarak sekitar 4 kilometer dengan mengelilingi empat sisi Benteng Keraton Yogyakarta.
Perjalanan tersebut umumnya memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam. Meski berlangsung dalam suasana sunyi, tradisi ini justru menjadi simbol kebersamaan sekaligus pengingat pentingnya mawas diri dalam menjalani kehidupan.
- Jenang Suran
Selain Tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng, Keraton Yogyakarta juga memiliki tradisi lain yang dilaksanakan untuk menyambut malam 1 Suro, yakni Tradisi Jenang Suran.
Tradisi ini digelar para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di kawasan Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tradisi Jenang Suran pada dasarnya merupakan kegiatan doa bersama dan tahlilan yang ditujukan untuk mendoakan para raja serta leluhur yang dimakamkan di kompleks tersebut.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus sarana memohon keberkahan dan keselamatan di tahun yang baru.
Dalam pelaksanaannya, jenang atau bubur suran disiapkan sebagai bagian dari rangkaian tradisi. Setelah doa dan tahlil selesai dilaksanakan, jenang tersebut biasanya dibagikan kepada para peserta dan masyarakat yang hadir.
Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap sejarah dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Demikian ritual di malam 1 Suro yang masih dilestarikan masyarakat.









