TEMBELANG, KabarJombang.com – SMPN 2 Tembelang, Kabupaten Jombang, menghadirkan program kokurikuler inovatif bertajuk “Sekolah Berbagi”. Program yang berjalan selama semester genap Tahun Ajaran 2025/2026 ini menjadi sarana untuk menanamkan nilai kejujuran, kepedulian sosial, dan empati kepada para siswa.
Kepala SMPN 2 Tembelang, Muchammad Shokhi, mengatakan program tersebut berawal dari kepeduliannya terhadap kondisi sejumlah siswa yang sering berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Menurutnya, ide itu muncul setelah melihat berbagai kegiatan sosial di masyarakat yang kemudian diadaptasi ke lingkungan sekolah sebagai bagian dari penguatan karakter dalam Kurikulum Merdeka.
“Kami ingin menghadirkan kegiatan kokurikuler yang mampu menggugah empati siswa kepada sesama. Dari situlah lahir gagasan program Sekolah Berbagi,” ujar Shokhi, Selasa (2/6/2026).
Sebelum program dijalankan, pihak sekolah melakukan pemetaan kondisi siswa melalui survei menggunakan Google Form yang diikuti wali murid dan 576 siswa dari 18 kelas.
Hasil survei menunjukkan sekitar 30 persen siswa kerap datang ke sekolah tanpa sarapan. Alasannya beragam, mulai dari tidak sempat makan pagi, tidak terbiasa sarapan, hingga faktor ekonomi keluarga.
Kondisi tersebut berdampak pada proses belajar mengajar. Tidak sedikit siswa yang terlihat mengantuk dan kurang fokus saat mengikuti pelajaran pada jam-jam awal sekolah.
“Banyak anak yang mengantuk di awal pelajaran karena belum sarapan. Itu yang kemudian mendorong kami untuk mengambil langkah nyata melalui program ini,” jelasnya.
Program Sekolah Berbagi dijalankan dengan mengedepankan semangat gotong royong dan sukarela. Di setiap kelas tersedia kotak kejujuran yang dapat diisi siswa dengan menyisihkan sebagian uang saku, mulai Rp500 hingga Rp2.000 per hari.
Partisipasi tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga guru dan tenaga kependidikan yang turut menyumbangkan dana secara sukarela.
Dana yang terkumpul selama tiga pekan pertama setiap bulan kemudian direkap dan diumumkan secara transparan. Pada pekan keempat, dana tersebut digunakan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan berbagi.

“Kalau membeli dari luar, satu porsi bisa mencapai Rp11 ribu. Dengan memasak sendiri, biaya bisa ditekan menjadi sekitar Rp6 ribu sampai Rp7 ribu per porsi. Sisanya dapat digunakan untuk kebutuhan lain, termasuk kemasan makanan,” terang Shokhi.
Kegiatan puncak Sekolah Berbagi dilaksanakan setiap Jumat pada pekan keempat setiap bulan. Agenda diawali dengan sarapan bersama di sekolah.
Sebanyak 90 hingga 100 siswa yang terdata sering tidak sempat sarapan mendapatkan makanan bergizi secara gratis.
Tak hanya itu, sebagian dana yang tersisa juga diwujudkan dalam bentuk paket sembako untuk keluarga siswa maupun warga sekitar yang membutuhkan.
Penyaluran bantuan dilakukan langsung oleh para siswa sebagai bagian dari pembelajaran karakter dan kepedulian sosial.
Melalui program tersebut, pihak sekolah berharap nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan rasa syukur dapat tertanam kuat dalam diri peserta didik hingga dewasa nanti.
“Harapan kami tumbuh empati dari dalam diri anak-anak. Mereka belajar menghargai perjuangan orang tua, menggunakan uang dengan bijak, dan peduli terhadap masyarakat yang membutuhkan. Insyaallah, jika terus dilatih, karakter baik itu akan terbentuk dengan sendirinya,” pungkasnya.









