JOMBANG, KabarJombang.com – Kawasan perbukitan di Kabupaten Jombang, khususnya wilayah Kecamatan Wonosalam, kini masuk dalam radar pengawasan ketat akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena El Nino yang memicu kekeringan ekstrem menjadikan medan sulit tersebut sebagai titik paling rawan yang diwaspadai tahun ini.
Kondisi geografis yang menantang di wilayah perbukitan diakui menjadi kendala utama jika api sewaktu-waktu berkobar. “Medannya cukup berat, sehingga penanganan kebakaran di wilayah tersebut tidak mudah,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, Minggu (19/4/2026).
Menyikapi risiko tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang bergerak cepat memperkuat langkah pencegahan. Salah satunya dengan menyiapkan surat edaran yang akan didistribusikan ke tingkat kecamatan hingga pemerintah desa untuk mengedukasi warga agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
”Dalam waktu dekat, sekitar pekan depan, surat edaran itu sudah mulai didistribusikan,” ujar Wiku.
Langkah siaga ini diambil setelah BPBD melakukan koordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan BMKG terkait dampak El Nino. Meski intensitasnya diprediksi tidak sekuat periode sebelumnya, potensi risiko kekeringan tetap menghantui wilayah Jombang.
”Potensi tetap ada, meski tidak separah yang dibayangkan. Namun kami tetap diminta siaga,” tambah Wiku.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Kondisi ini secara langsung memicu berkurangnya curah hujan di Indonesia, yang secara otomatis meningkatkan kerentanan hutan terhadap api.
Selain faktor alam, BPBD juga fokus pada pencegahan yang dipicu aktivitas manusia melalui sosialisasi masif di kawasan rawan. Hal ini berkaca pada pengalaman pahit tahun 2023 lalu.
data di BPBD menyebutkan kejadian karhutla terakhir di Jombang terjadi di wilayah Wonosalam dengan luas terdampak mencapai sekitar 40 hektare. Saat itu, keterbatasan sarana prasarana memaksa petugas bekerja ekstra keras di lapangan.
”Penanganannya masih manual. Saat itu sekitar 48 personel dikerahkan untuk membuat sekat bakar agar api tidak meluas,” jelas Pepi.
Sebagai langkah kontingensi, BPBD Jombang telah menyiapkan skema koordinasi dengan pemerintah provinsi hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jika eskalasi kebakaran melampaui kendali peralatan darat.
”Pada kejadian terakhir, sempat dilakukan pemadaman menggunakan helikopter dengan tiga kali penerbangan (sorti),” pungkasnya.









