Iswara, Suara Perlawanan Santri Perempuan Menggema Dari Jombang

Pementasan teater yang dimainkan para santri Asrama Al Furqon, PP Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang.
  • Whatsapp

PETERONGAN, KabarJombang.com – Aula Asrama Al Furqon, Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang tampak berbeda pada Jumat (13/2/2026) malam. Di bawah sorot lampu yang temaram, panggung sederhana itu berubah menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi sosial.

Dalam salah satu adegan paling kuat, seorang gadis duduk dengan tubuh terikat pita merah. Geraknya terbatas, tetapi suaranya lantang menembus ruangan. Ia adalah Asih, tokoh utama dalam pementasan ‘Iswara’ garapan Teater Pitulikur. Adegan tersebut menjadi momen emosional yang menyita perhatian penonton.

Baca Juga

Pita merah yang membelit tubuh Asih bukan sekadar properti panggung. Ia menjadi simbol tekanan, batasan, dan kungkungan yang dialami perempuan. Namun dari situ pula, muncul keberanian untuk melawan. Suasana aula hening, penonton larut dalam dialog yang sarat makna.

Menariknya, para pemain dalam pertunjukan ini bukan aktor profesional. Mereka adalah santri Asrama Al Furqon dari berbagai jenjang pendidikan, mulai MTs dan SMP hingga MA dan SMA. Dengan tata busana dan panggung yang sederhana, para santri berani mengangkat tema besar yakni ketidakadilan dan pembatasan peran perempuan.

‘Iswara’ berkisah tentang Asih, putri seorang kepala desa yang dihormati, namun memiliki pandangan konservatif terhadap pendidikan perempuan. Sang ayah digambarkan sebagai figur otoriter yang menganggap perempuan tak perlu menempuh pendidikan tinggi.

Konflik bermula dari rumah. Asih memiliki cita-cita mendirikan sekolah bagi anak-anak di desanya. Keinginan tersebut dianggap melawan tradisi dan peran perempuan yang selama ini dilekatkan padanya. Tekanan demi tekanan pun datang, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar.

Cerita ini berkembang menjadi potret sosial yang relevan. Dialog-dialognya menyinggung persoalan hak, kebebasan memilih jalan hidup, serta tafsir peran perempuan dalam budaya patriarkal. Penonton tak hanya disuguhi drama, tetapi juga diajak merenungkan realitas yang terjadi di masyarakat.

Keunikan lain dari pementasan ini terletak pada konsep penyajiannya. Sepanjang pertunjukan, tidak ada adegan yang mempertemukan pemain laki-laki dan perempuan di atas panggung secara bersamaan. Setiap babak dirancang terpisah. Saat tokoh laki-laki tampil, panggung sepenuhnya menjadi milik mereka. Demikian pula ketika adegan beralih pada tokoh perempuan. Tidak ada interaksi fisik atau dialog langsung antar lawan jenis.

Meski demikian, alur cerita tetap tersampaikan dengan runtut. Permainan cahaya, tata musik, dan pengaturan adegan menjadi jembatan antar babak sehingga emosi penonton tetap terjaga. Keterbatasan aturan justru melahirkan kreativitas artistik yang segar. Konsep tersebut selaras dengan nilai-nilai yang dijunjung di lingkungan pesantren, di mana seni diberi ruang berkembang tanpa meninggalkan koridor syariat. Pengasuh Asrama Al Furqon, KH Mustain Dzul Azmi atau Gus Azmi, menjelaskan bahwa kegiatan teater menjadi bagian dari pembinaan karakter santri.

Menurutnya, para santri tetap diberi kebebasan berekspresi selama tidak melanggar prinsip yang diyakini. Strategi pementasan pun diatur agar tidak ada pertemuan langsung antara pemain laki-laki dan perempuan dalam satu adegan. Ia menegaskan, teater bukan hanya sarana hiburan. Lebih dari itu, panggung menjadi tempat belajar membangun kepercayaan diri, kerja sama tim, hingga menyampaikan gagasan secara santun. “Aturan bukan penghalang kreativitas, tetapi batas yang menuntut kecerdikan,” ujarnya pada Sabtu (14/2/2026).

Di penghujung pertunjukan, pita merah yang membelit Asih memang belum sepenuhnya terlepas. Namun pesan yang disampaikan terasa kuat: suara yang berani bersuara tak mudah dibungkam. Dari aula pesantren di Jombang, para santri menunjukkan bahwa seni dapat tumbuh berdampingan dengan nilai keagamaan. Bahwa panggung bisa menjadi media dakwah sekaligus ruang refleksi sosial. Dan bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada jalan untuk menyuarakan kebebasan.

Berita Terkait