Ploso Jombang Teguhkan Situs Kelahiran Bung Karno Lewat Jejak Cindy Adams

Foto: Tugu Tetenger Situs Kelahiran Bung Karno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yang baru saja diresmikan. (Istimewa)
  • Whatsapp

PLOSO, KabarJombang.com — Upaya peneguhan sejarah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali dilakukan di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, pada Jumat (16/1/2026). Masyarakat dan pemerhati sejarah menggelar rekonstruksi kunjungan Cindy Adams, penulis otobiografi Bung Karno, bersamaan dengan peresmian Tugu Tetenger di Situs Kelahiran Sang Proklamator.

Cindy Adams dikenal sebagai jurnalis asal Amerika Serikat yang dipercaya langsung oleh Bung Karno untuk menuliskan kisah hidupnya pada era 1960-an. Meskipun dalam otobiografi tersebut tidak secara tegas mencantumkan lokasi kelahiran Bung Karno di Jombang, jejak kehadiran Cindy Adams di Ploso dinilai memiliki nilai historis yang sangat penting.

Baca Juga

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, Nasrulilah atau Cak Nas, menyampaikan bahwa rekonstruksi ini bertujuan menjaga kesinambungan memori sejarah bangsa, bukan sekadar kegiatan simbolik.

“Hari ini kita menghadirkan kembali satu fragmen penting sejarah. Cindy Adams pernah datang ke Ploso untuk menemui orang-orang yang merawat Bung Karno sejak kecil, termasuk lingkungan sosial tempat beliau tumbuh,” tutur Cak Nas.

Ia menjelaskan, kedatangan Cindy Adams saat itu dilatarbelakangi keinginan untuk menggali lebih dalam kisah masa kecil Bung Karno, yang tidak sepenuhnya tercatat dalam buku otobiografi. Fakta tersebut menjadi bukti bahwa Ploso memiliki keterkaitan kuat dengan awal kehidupan Sang Proklamator.

“Bung Karno memang tokoh masa lalu, tetapi ajaran dan nilai perjuangannya adalah warisan masa depan. Beliau sendiri mengingatkan bangsa ini agar tidak melupakan sejarah,” lanjutnya.

Cak Nas menegaskan bahwa penetapan Desa Rejoagung sebagai lokasi kelahiran Bung Karno telah melewati proses kajian ilmiah yang panjang. Tim TACB Jombang mengumpulkan berbagai arsip sejarah, dokumen, serta kesaksian lisan dari keluarga dan warga yang berkaitan langsung dengan peristiwa kelahiran tersebut.

Berdasarkan data arsip, ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, mulai bertugas sebagai guru sekolah Ongko Loro di Ploso pada 28 Desember 1901. Enam bulan kemudian, pada 6 Juni 1902, Bung Karno dilahirkan di wilayah tersebut, jauh sebelum Kabupaten Jombang terbentuk secara administratif.

“Lokasi rumah kelahiran Bung Karno berada di Dusun Ngelo, Desa Rejoagung, tepatnya di sebuah gang buntu,” jelasnya.

Pakuncen Titik Nol Soekarno, Mbah Masfi’in, menambahkan bahwa penelusuran sejarah kelahiran Bung Karno telah dilakukan sejak 2009 atas inisiatif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang bersama para sejarawan.

“Proses riset berlangsung bertahun-tahun dan semakin diperkuat ketika cucu Bung Karno, Mbak Put, berkunjung ke lokasi ini pada 2014,” ungkap Masfi’in.

Ia juga mengungkapkan bahwa Bung Karno semasa bayi bernama Kusno, sebagaimana tercatat dalam sejumlah sumber akademik, termasuk hasil kajian dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Kusno lahir di tempat ini. Karena kondisi kesehatannya, nama tersebut kemudian diganti menjadi Soekarno. Bahkan, lokasi penanaman ari-ari beliau masih dapat ditelusuri di sekitar rumah kelahiran,” tambahnya.

Sementara itu, Inisiator Titik Nol Soekarno, Binhad Nurrohmat, menyebut rekonstruksi kunjungan Cindy Adams merupakan bagian dari rangkaian agenda tahunan peringatan sejarah Bung Karno di Ploso.

“Ada empat agenda rutin yang kami laksanakan, mulai dari kirab kelahiran Bung Karno, peringatan kunjungan Bung Karno ke Ploso, rekonstruksi kunjungan Cindy Adams, hingga peringatan kedatangan Raden Soekemi Sosrodihardjo ke Ploso,” jelas Binhad.

Setelah melalui sarasehan dan penguatan data terakhir pada 2023, komunitas sejarah di Jombang dan Jawa Timur sepakat menetapkan Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, sebagai situs kelahiran Bung Karno.

Peresmian Tugu Tetenger diharapkan tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda agar terus mengenal dan menghargai jejak awal kehidupan Sang Proklamator.

Berita Terkait