Tugu Pembaptisan 1843 di GKJW Ngoro, Saksi Awal Sejarah Kekristenan di Jombang

Foto : GKJW Pasamuan Ngoro, Jombang, yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kekristenan di Jawa Timur. (Istimewa)
  • Whatsapp

NGORO, KabarJombang.com – Sebuah tugu sederhana yang berdiri di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pasamuan Ngoro, Kabupaten Jombang, menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kekristenan di Jawa Timur. Meski tampil tanpa kemegahan, monumen ini menyimpan nilai historis yang sangat penting bagi umat Kristen di wilayah tersebut.

Tugu tersebut menandai lokasi pembaptisan pertama jemaat Kristen di kawasan Jombang yang berlangsung pada 12 Desember 1843. Peristiwa ini terjadi jauh sebelum bangunan gereja permanen didirikan, menjadikannya sebagai tonggak awal terbentuknya komunitas Kristen di daerah tersebut.

Sekretaris GKJW Ngoro, Supriyantono, menjelaskan bahwa keberadaan tugu itu bukan sekadar simbol, melainkan penanda sejarah lahirnya persekutuan jemaat. “Dari titik inilah perjalanan iman jemaat Kristen di Jombang bermula,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).

Keberadaan monumen pembaptisan seperti ini tergolong langka di lingkungan GKJW. Dari ratusan jemaat yang tersebar di Jawa Timur, hanya tiga lokasi yang memiliki penanda sejarah serupa, yakni di Ngoro, Wiyung (Surabaya), dan kompleks Majelis Agung GKJW di Malang. GKJW Ngoro sendiri dikenal sebagai komunitas Kristen tertua di Kabupaten Jombang.

Bangunan gereja yang kini berdiri di Jalan Suropati Nomor 15 baru dibangun pada 1902. Arsitektur kolonialnya masih terjaga hingga kini, dengan ukuran bangunan sekitar 25 x 10 meter. Beberapa bagian utama seperti pilar kayu jati dan struktur dasar masih mempertahankan keaslian sejak awal pendirian.

“Perubahan yang dilakukan sangat terbatas, hanya sebatas perawatan ringan. Karena statusnya sebagai cagar budaya, gereja ini tidak boleh mengalami renovasi besar,” jelas Supriyantono.

Sejarah perkembangan GKJW Ngoro juga tidak terlepas dari peran Coenraad Laurens Coolen, seorang tokoh komunitas berdarah campuran Eropa dan Nusantara. Pada awal abad ke-19, Coolen membuka permukiman di wilayah Ngoro dengan izin pemerintah kolonial dan mulai mengenalkan ajaran Kristen kepada masyarakat setempat.

Aktivitas ibadah pada masa awal dilakukan secara sederhana di rumah-rumah warga, termasuk di kediaman Coolen sejak 1835. Delapan tahun kemudian, pembaptisan pertama pun dilaksanakan dan menjadi tonggak penting perkembangan jemaat.

Dari komunitas kecil yang beranggotakan sekitar 20 orang, GKJW Ngoro kini telah berkembang pesat dengan jumlah jemaat mendekati seribu orang.

Menjelang perayaan Natal tahun ini, GKJW Ngoro mengangkat tema ‘Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga’. Tema tersebut diharapkan mampu memperkuat iman jemaat sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

“Nilai kekeluargaan dan perdamaian diharapkan dapat tumbuh dari lingkup keluarga hingga kehidupan bermasyarakat,” tutup Supriyantono.

Berita Terkait