Petirtaan Sumberbeji Jombang Diduga Terhubung dengan Permukiman Elit Majapahit, Pemerhati Sejarah Minta Penelitian Serius

Foto : Situs petirtaan Sumberbeji yang berada di Desa Kesamben, Ngoro, Jombang. (Istimewa) 
  • Whatsapp

NGORO, KabarJombang.com – Kompleks Petirtaan Sumberbeji di Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang kembali menarik perhatian para pemerhati sejarah. Struktur kunonya dinilai terlalu megah untuk berdiri sebagai bangunan tunggal sehingga diduga menjadi bagian dari lingkungan permukiman penting pada era Majapahit.

Penilaian tersebut disampaikan pemerhati sejarah Jombang, Arif Yulianto (Cak Arif), yang menyebut letak petirtaan itu berada di antara dua titik yang kerap dikaitkan dengan masa Hindu-Buddha Candi Rimbi di selatan, serta kawasan yang dikenal dengan nama Dusun Kedaton di utara.

Baca Juga

“Posisi Sumberbeji berada di tengah-tengah dua lokasi yang sarat jejak historis. Rimbi dikaitkan dengan masa Tribhuwana Tunggadewi, sedangkan Kedaton penuh temuan benda kuno,” ujar Cak Arif, Senin (1/12/2025).

Menurutnya, sejak sekitar 2016, warga di Dusun Kedaton dan wilayah sekitarnya kerap menemukan benda-benda arkeologis mulai dari bata kuno, fragmen gerabah, hingga peralatan logam yang diduga berasal dari masa Majapahit. Beberapa di antaranya bahkan sudah dikuburkan kembali oleh warga karena tidak memahami nilainya.

“Sebarannya sangat luas, bahkan sampai wilayah Sugihwaras yang berbatasan langsung. Ini menunjukkan aktivitas masa lalu di sana cukup padat,” terangnya.

Ia juga menyinggung kondisi geologi lokasi tersebut yang memiliki lapisan tanah beragam dan material vulkanik yang kemungkinan berasal dari aktivitas Gunung Kelud, mengingat daerah itu berada dekat jalur aliran Kali Konto.

Pegiat sejarah Jombang lainnya, Isma Hakim, menilai dugaan keterhubungan antara Sumberbeji dan Kedaton seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Menurutnya, perlu kajian komprehensif untuk memastikan apakah kawasan tersebut benar-benar menjadi pusat permukiman elite, bahkan mungkin kedaton atau keraton pada masa Majapahit.

“Harus ada riset mendalam. Kita perlu tahu apakah toponim Kedaton itu sekadar nama atau memang menyimpan struktur pemerintahan masa lalu,” ujarnya.

Isma menegaskan bahwa pemetaan arkeologis ini penting untuk memastikan apakah wilayah itu berkaitan dengan pusat pemerintahan Kahuripan, Majapahit, atau entitas lain.

“Semua kembali pada kemauan pemerintah. Instrumen mereka ada, tinggal bagaimana komitmennya,” tutupnya.

Berita Terkait