JOMBANG, KabarJombang.com – Dari hobi menjadi ladang rezeki, itulah yang kini dijalani Lia (30), warga Jalan Dewi Sartika, Desa Sengon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang. Lewat brand miliknya, Flowgurumi, Lia menghadirkan berbagai karya rajut handmade, khususnya boneka rajut amigurumi yang kini digemari banyak kalangan.
Usaha rajut ini ia mulai sejak Desember 2023. Tak sekadar menjual produk, Lia juga membuka kelas merajut bagi masyarakat umum. Dengan semangat berbagi dan melestarikan kerajinan tangan, Flowgurumi kini perlahan menjadi ruang edukatif sekaligus kreatif di tengah padatnya rutinitas harian.
“Saya memilih amigurumi sebagai produk utama karena memang saya menyukai boneka. Selain itu, amigurumi juga disukai banyak kalangan, dari anak-anak hingga dewasa,” ungkap Lia kepada media.
Produk rajut yang paling banyak diminati saat ini adalah boneka amigurumi serta gantungan kunci dan hiasan tas. Untuk menghasilkan satu boneka rajut berukuran standar, Lia membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 3 jam, tergantung tingkat kerumitan.
“Prosesnya dimulai dari memilih benang dan alat yang sesuai, lalu menentukan pattern yang ingin dibuat. Setelah itu, tinggal mengikuti polanya hingga selesai,” jelasnya.
Tak hanya menjual produk, ia juga aktif menggelar kelas merajut, baik yang berbayar maupun gratis. Kelas berbayar dikhususkan untuk privat belajar rajut, sedangkan kelas gratis mencakup kerajinan sederhana seperti makrame dan gelang tali.
“Saya membuka kelas ini untuk mewadahi teman-teman yang ingin belajar merajut dan juga sebagai kegiatan positif di akhir pekan,” katanya.
Materi yang diajarkan pun disesuaikan dengan kebutuhan peserta, seperti teknik dasar merajut, hingga bisa menjadi suatu karya seperti mini pouch maupun amigurumi. Kelas ini terbuka untuk semua usia, dengan syarat minimal anak usia sekolah dasar.
“Kebanyakan antusias walau ada juga yang menyerah di tengah jalan, karena memang merajut butuh waktu dan kesabaran,” tambahnya.
Meski saat ini belum tergabung dalam komunitas rajut di Jombang, Lia berharap ke depan bisa membentuk atau bergabung dalam komunitas pengrajin lokal. Menurutnya, kehadiran komunitas bisa membantu pengembangan produk dan berbagi pengalaman antar sesama pehobi.
“Saya juga punya keinginan untuk mengadakan pelatihan bersertifikat atau program jangka panjang di bidang rajut. Tapi saya sadar, masih perlu banyak belajar untuk sampai ke tahap itu,” terangnya.
Sebagai pengusaha dengan pekerjaan utama lain di luar rajut, Lia mengakui manajemen waktu adalah tantangan terbesarnya. Namun, ia tetap optimis menjalani dua peran sekaligus.
“Tantangannya ya di waktu. Karena masih harus membagi fokus dengan pekerjaan utama, jadi harus benar-benar pintar mengatur jadwal,” tuturnya.
Ke depan, Lia berharap Flowgurumi bisa menjadi wadah belajar sekaligus tempat pelestarian kerajinan tangan, khususnya rajut, di tengah gempuran produk instan dan pabrikan.
Salah satu pelanggan Flowgurumi, Firda (16), mengaku sangat senang dengan produk yang ia beli. Baginya, boneka rajut buatan Flowgurumi tidak hanya unik, tetapi juga terasa personal.
“Aku suka banget sama bonekanya! lucu, halus, dan bisa request karakter yang aku mau. Kak Lia juga sabar banget waktu aku minta ubah warna. Pokoknya recommended deh!” ungkap Firda dengan antusias.









