Kisah Sekolah Rakyat di Jombang, Orang Tua Rela Antar Pakai Mobil Siaga Desa dan Bawa ‘Seisi Rumah’

Foto : Salah satu siswa Sekolah Rakyat di Jombang yang diantar keluarga di hari pertama masuk menggunakan mobil siaga desa. (Istimewa)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Hari pertama pembukaan Sekolah Rakyat di Mojoagung, Kabupaten Jombang, menjadi momen penuh haru. Ratusan orang tua tampak datang dengan koper besar, ember, hingga bantal guling. Mereka seolah-olah membawa ‘seisi rumah’ untuk memastikan anak-anak mereka nyaman tinggal di asrama baru.

Sekolah berasrama yang berlokasi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mojoagung ini resmi memulai tahun ajaran perdananya pada Senin (14/7/2025). Antusiasme tinggi tampak sejak pagi, dengan kedatangan 100 siswa dari keluarga kurang mampu, lengkap dengan pengantar dari berbagai penjuru daerah di Kabupaten Jombang.

Baca Juga

Tak sedikit yang datang menggunakan kendaraan tak biasa. Ada yang menumpang ambulans milik desa, ada pula yang diantar mobil pinjaman saudara, bahkan ada yang dibonceng menggunakan sepeda motor. Mereka datang bukan hanya membawa barang, tetapi juga harapan besar.

“Saya ingin anak saya betah, makanya saya bawa semua perlengkapannya, sampai sabun dan bantalnya,” ujar Sulastri (43), salah satu wali murid dengan mata berkaca-kaca. “Kami bukan keluarga mampu, tapi kami ingin dia punya masa depan lebih baik.” sambungnya.

Sekolah Rakyat ini merupakan program kolaboratif antara Kementerian Sosial RI dan Pemerintah Kabupaten Jombang, yang menyasar siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Tercatat 100 siswa terdaftar, terdiri atas 50 siswa jenjang SMP dan 50 siswa jenjang SMA, dengan komposisi 36 laki-laki dan 64 perempuan. Mereka kini resmi tinggal di asrama dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Ini bukan sekadar sekolah biasa. Fokus utama kami adalah membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian,” jelas Andik Winarto, Kepala Sekolah Rakyat yang sebelumnya menjabat sebagai Waka Kurikulum di SMKN 3 Jombang.

Ia menambahkan bahwa kurikulum yang diterapkan tetap mengacu pada standar nasional, namun dibalut dengan pendekatan berasrama dan pembinaan intensif.

Kegiatan belajar di sekolah ini berlangsung dari pukul 07.00 hingga 21.00 WIB, dilengkapi dengan jadwal istirahat, ibadah, pelatihan keterampilan, dan sesi pembinaan karakter. Kegiatan malam perdana diisi dengan acara keagamaan bersama guru dan wali asuh.

Sebanyak 18 guru telah disiapkan, didukung oleh tim pengelola asrama yang terdiri dari 3 operator, 4 wali asuh, 7 wali asrama, 3 satpam, 4 petugas kebersihan, dan 1 juru masak. Seluruh fasilitas pendukung seperti air bersih, listrik, dan internet juga telah siap digunakan.

“Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga tangguh secara emosional dan spiritual,” kata Purwanto, Asisten I Pemerintahan Kabupaten Jombang saat membuka MPLS mewakili Bupati.

Hingga hari pertama, belum ditemukan kendala berarti. Meskipun seragam khusus dari Kemensos belum tersedia dan siswa masih mengenakan pakaian dari sekolah asal, semangat belajar tidak surut sedikit pun.

Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan, pemeriksaan kesehatan, dan penyesuaian di asrama. Dua kelas SMP dan dua kelas SMA kini resmi dibuka, masing-masing dengan 25 siswa per rombongan belajar.

Menurut Kepala Dinas Sosial Jombang, Hari Purnomo, Sekolah Rakyat menjadi jawaban konkret atas kebutuhan pendidikan yang layak bagi anak-anak dari keluarga miskin.

“Ini bukan hanya soal sekolah, tapi soal membuka harapan. Kami ingin tidak ada lagi anak putus sekolah karena alasan ekonomi,” tegasnya.

 

Berita Terkait