Nikmatnya Es Tape Ketan di Mojoagung Jombang, Minuman Tradisional yang Tak Lekang Oleh Waktu

Foto: Nanik (36) sedang meracik pesanan es tape ketan ireng. (Wahyu/Kabar Jombang).
  • Whatsapp

MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Derasnya tren minuman sachet yang silih berganti, segelas es tape ketan tetap hadir dengan kesederhanaan yang memikat. Fermentasi ketan yang manis berpadu dengan kesegaran es menjadikannya bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga jejak rasa tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Bagi banyak orang, menikmati es tape ketan bukan hanya soal rasa, melainkan perjalanan pulang menuju kenangan masa lalu yang tak pernah pudar.

Baca Juga

Lebih dari sekadar minuman, es tape ketan mencerminkan kearifan lokal masyarakat Nusantara. Proses pembuatannya yang memerlukan kesabaran muali dari merendam beras ketan, mengukus, hingga menunggu fermentasi.

Hal itu mencerminkan nilai tentang harmoni dengan alam dan waktu. Dalam budaya Jawa misalnya, tape ketan sering hadir dalam momen-momen khusus, mulai dari hajatan hingga perayaan tradisi, sebagai simbol kebersamaan dan keberuntungan.

Kehadirannya di tengah minuman serba sachet menjadi bukti bahwa cita rasa tradisi masih mampu bertahan di era saat ini, sekaligus menegaskan bahwa warisan budaya tak hanya hidup dalam upacara, tetapi juga larut dalam sajian minum sehari-hari.

Seperti yang dilakukan Sulastri pemilik stand es tape di Jalan Raya Sumobito, Mojoagung. Ia memilih menjual minuman tradisional dengan cara memberikan variasi mulai dari es tape ketan hitam yang dicampuri dengan toping roti tawar dan beberapa irisan kue tetel ketan. Selain itu, ia memberikan inovasi baru dengan es campur yang ditambahkan dengan varian ketan hitam atau dikenal dengan es susu ketan (Suket).

Dua minuman dengan berbahan dasar ketan hitam dibandrol Rp5.000, sedangkan 1 botol minuman tape ketan hitam dibandrol 10 sampai 15 ribu.

“Es tape ketan hitam atau orang dulu menyebutnya es badeg. Jadi es itu termasuk golongan minuman tradisional, tapi yang membedakan es tape disini dengan lainnya banyak varian salah satunya adalah es susu ketan semacam es campur tapi ditambah toping ketan hitam,” ujar Nanik (36), penjaga stand minuman tersebut ketika diwawancarai, jumat (3/10/2025).

Menurutnya, bisnis minuman tradisional ini sudah berlangsung kurang lebih 1 sampai 2 tahun dengan lokasi yang tetap. Sehari ia mampu menghasilkan lebih dari 200 sampai 300 ribu, tergantung ramai atau tidaknya pembeli.

Salah satu pembeli, Sahputra (34) mengungkapkan alasannya memilih membeli minuman tradisional es tape ketan. Selain rasanya yang manis, ia ingin merasakan momen nostalgia ketika belum maraknya penjual es tape ketan seperti saat ini.

“Saya suka minuman ini karena rasanya enak manis kemudian ada sedikit rasa asam-asam tape ketan hitamnya, dan dulu kalau mau minum-minuman tape ketan hitam menunggu adanya ora hajatan karena kebantu orang-orang hajatan membeli atau membuat minuman tape ketan hitam,” paparnya.

Berita Terkait