Tentang Kekuasaan yang Tak Ingin Pergi, Teater ‘Darpana’ dari Komunitas Tombo Ati Mengguncang Gedung Kesenian Jombang

Foto : Pentas teater Darpana di Gedung Kesenian Jombang, produksi Komunitas TomboAti ke-44 sekaligus perayaan ulang tahun ke-29. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Sejak pintu Gedung Kesenian Jombang dibuka, gelombang antusiasme mulai terasa. Penonton dari berbagai usia berdatangan, memenuhi setiap sudut ruang pertunjukan. Suasana penuh bisik penasaran mengalir di antara bangku-bangku, tentang seperti apa rupa Darpana, teater ke-44 persembahan Komunitas TomboAti, yang merayakan ulang tahunya ke-29.

“Katanya ini kisah keluarga tapi kayak kerajaan?” bisik seorang remaja kepada temannya, sementara di barisan depan, seorang penonton tampak membolak-balik lembar kertas yang dikasih panitia sambil mengangguk-angguk pelan.

Baca Juga

Begitu lampu meredup dan pemandu acara mulai muncul membuka pertunjukan, penonton langsung disergap keheningan penuh rasa ingin tahu. Di hadapan mereka terbentang sebuah istana megah, panggung dihias seperti istana kerajaan para pemain berkostum khas pewayangan. Di tengahnya terdapat kursi singgasana besar dengan sandaran menyerupai cermin raksasa, dan para tokoh yang berbicara layaknya berada di zaman keemasan Ramayana.

Tak butuh waktu lama, gelak tawa mulai pecah dari bangku penonton ketika komedian Moh. Shuluhil Amin atau akrab disapa Cak Ukil, yang memerankan tokoh Kidang Alit. dengan gaya dagelan khasnya menghadirkan jeda segar di antara dialog penuh simbol.

Cak Ukil, komedian yang baru saja menunaikan ibadah haji tersebut, sukses menghidupkan panggung dengan kelucuan yang tetap membumi. Namun di balik tawa itu, penonton mulai menyadari, ada yang janggal dari kerajaan ini.

Secara perlahan, narasi bergeser. Dunia kerajaan yang sejak awal dipertontonkan ternyata hanyalah fatamorgana dalam benak Aryo, sang kepala keluarga. Aryo, yang dulunya adalah tokoh berpengaruh di masyarakat, tidak mampu menerima kenyataan bahwa masa kejayaannya telah usai.

Ia menciptakan dunia sendiri di dalam rumahnya, menjelma menjadi Paduka Raja Dasamuka, dan menugaskan anggota keluarganya menjadi tokoh-tokoh pewayangan seperti Dewi Sinta, Trijata, hingga Prahasta.

“Ceritanya ini tentang manusia yang sedang terjangkit Post Power Syndrome. Ini bisa mengenai siapa saja, terutama mereka yang dulunya punya pengaruh besar di masyarakat, lalu tiba-tiba kehilangan semua itu. Kalau tidak mampu beradaptasi, maka mereka bisa jatuh ke dalam delusi masa lalu,” ungkap sutradara Imam Ghozali Ar. saat diwawancarai usai pementasan, Sabtu (2/8/2025).

Ia menambahkan bahwa sosok Aryo dalam pementasan ini adalah cerminan dari hal tersebut. “Aryo dulunya adalah tokoh yang ditokohkan. Tapi ketika masa pengaruhnya usai, dia tidak siap kembali jadi ‘orang biasa’. Memorinya muncul, otak bawah sadarnya aktif, dan dia menciptakan kembali kejayaannya lewat delusi,” jelasnya.

“Jadi dunia kerajaan yang ditampilkan itu sebenarnya hanya imajinasi Aryo. Istrinya dijadikan Sinta, pembantunya jadi Prahasta, dan dia sendiri menjelma sebagai Dasamuka. Delusi ini menjadi bentuk pelarian dari realita,” terang sang sutradara yang juga baru menjalani purna tugas tersebut.

Puncak pertunjukan terjadi ketika keluarga Aryo harus memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. “Itu momen klimaksnya. Sangat emosional karena menunjukkan bahwa cinta pun kadang harus memilih keputusan pahit demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Soal pesan pertunjukan, Imam menegaskan Darpana itu dari bahasa Sanskerta, artinya cermin. Menurutnya pentas ini bukan sekedar hiburan tapi tentang kita semua, tentang bagaimana manusia sering kali terjebak dalam ilusi masa lalu.

“Jadi pesan utamanya ketika seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan, ia bisa terjebak dalam pantulan masa lalunya sendiri. Ini adalah ruang kontemplasi, refleksi, ruang katarsis juga untuk siapa saja yang sedang berhadapan dengan realita hidup yang berubah,” pesanya.

Naskah Darpana merupakan hasil adaptasi dari karya besar Nano Riantiarno, berjudul ‘Maaf, Maaf, Maaf,” yang dikenal fleksibel dan selalu relevan lintas generasi.

“Awalnya kami memilih naskah ‘Maaf, Maaf, Maaf’ karya Pak Nano Riantiarno karena naskah-naskah beliau itu sangat fleksibel dan peka zaman. Mau dipentaskan kapan pun, masih selalu relevan,” kata Fandi Ahmad.

Penulis naskah, menjelaskan bahwa ia hanya mempertahankan sekitar 60% alur aslinya, sementara sisanya diolah ulang agar lebih kontekstual dengan masyarakat hari ini.

“Saya create ulang, potong, tambah. Struktur utama atau alurnya masih sekitar 60% dari naskah asli, tapi tema-tema minornya kami sesuaikan dengan kondisi hari ini,” jelasnya.

Yang menarik, inspirasi untuk menggubah ulang naskah ini justru datang dari kehidupan pribadi sang sutradara sendiri. “Sutradara kami adalah seorang pensiunan, dan kisah Aryo juga tentang seseorang yang sudah pensiun dari kekuasaan. Jadi proses penulisan ini juga semacam terapi fisik sekaligus emosional, bukan cuma untuk penonton, tapi juga bagi kami yang terlibat,” bebernya.

Menurutnya, pemilihan judul Darpana, yang dalam bahasa Sanskerta berarti cermin atau pantulan, bukan tanpa alasan. Kata itu menjadi simbol utama dari keseluruhan pesan pertunjukan, bahwa setiap dari kita bisa menjadi Aryo, jika tak mampu bercermin dan berdamai dengan kenyataan.

“Sebagai bagian dari perayaan 29 tahun Komunitas TomboAti, Darpana menjadi penanda penting akan konsistensi komunitas ini dalam menjaga ruh teater sebagai medium penyadaran. Dengan produksi ke-44 ini, TomboAti menunjukkan bahwa seni tidak harus bising untuk bersuara cukup menjadi cermin, agar kita bisa melihat kembali siapa diri kita sebenarnya,” tandasnya.

Selama dua jam pertunjukan, penonton dibawa naik turun dalam emosi antara tawa, rasa iba, dan renungan mendalam. Visual panggung yang detail, dialog yang kuat, dan pengolahan musikal yang menyatu membuat Darpana tampil bukan hanya sebagai pentas, tetapi juga ruang refleksi kolektif.

Penutup pertunjukan bukan hanya tepuk tangan yang panjang, tetapi juga tatapan-tatapan diam dari penonton yang perlahan meninggalkan gedung. Seakan Darpana tak hanya berakhir di panggung, melainkan terus bergema di dalam pikiran mereka masing-masing.

Sebagai informasi pementasan Darpana ini digelar sejak tanggal 1-3 Agustus dengan 4 sesi di Gedung Kesenian Jombang, Jalan Kusuma Bangsa, Desa Sengon, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang.

 

 

Berita Terkait