Tape Ketan Hijau, Salah Satu Hidangan Andalan saat Acara Hajatan di Kabupaten Jombang

Foto : Agus Wardoyo ketika sedengan mengemas tape ketan hijau untuk para pelanggannya. (Wahyu/KabarJombang).
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Tape ketan hijau, sudah menjadi salah satu hidangan andalan saat musim hajatan di Kabupaten Jombang. Produksi hidangan berbahan beras ketan ini, sudah menjadi warisan yang turun temurun. Bahkan, menjadi salah satu hidangan yang paling dicari warga.

Salah satunya di Desa Kedawong, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Makanan tersebut sufah diproduksi secara massal. Hidangan ini selalu menghiasi beraneka ragam sajian makanan yang tersedia ketika momentum tertentu. Rasa tape ketan hijau yang manis tepat untuk dijadikan suguhan para tamu undangan.

Baca Juga

Agus Wardoyo (55), salah satu pembuat tape ketan hijau di Desa Kedawung, Kecamatan Diwek mengaku meneruskan usaha milik orangtuanya yang sudah berjalan dari tahun 1999.

Ia menjelaskan momen ramainya pemesanan tape ketan hijau miliknya ketika memasuki momentum tertentu atau bulan- bulan tertentu. Selain mengandalkan ketika momen tertentu, ketan hijau milik Agus Wardoyo sering dijadikan sebagai buah tangan.

“Ramainya pemesanan tape ketan hijau ini ketika ada momen hajatan dan selametan, biasanya terjadi pada bulan Syawal. Kalau bulan Suro seperti ini memang ada saja yang memesan tapi tidak sebanyak ketika bulan Syawal karena banyak orang-orang yang menggelar hajatan seperti pernikahan, maupun acara lainnya. Ketan hijau ini biasanya sering digunakan sebagai oleh-oleh. Biasanya banyak orang datang kesini membeli beberapa ratus biji untuk dibawa ke sanak saudaranya,”, jelasnya.

Proses pembuatan tape ketan hijau diwarnai menggunakan pewarna makanan. Sebelumnya, beras ketan terlebih dahulu dibersihkan menggunakan air bersih, gun membersihkan kotoran-kotoran yang terdapat di beras ketan.

“Proses awalnya beras ketan dibersihkan terlebih dahulu kemudian diberikan pewarna makanan, lalu dicuci kembali sampai jernih, baru dimasak kurang lebih 3 jam, setelah dimasak tape ketan tersebut didinginkan terlebih dahulu baru dikemas,” terangnya.

Menurutnya sekali pembuatan tape ketan hijau. Ia menggunakan kurang lebih 20 kilo beras ketan. Namun, jumlah bahan yang digunakan disesuaikan dengan ramainya pemesanan atau permintaan.

“Biasanya kalau sepi seperti ini bahan yang saya gunakan sekali masak bisa menghabiskan 20 kilo, kalau ramai biasanya 60 kilo, ketika menjelang hari raya bisa sampai 2 kuintal,” ungkap Agus Wardoyo.

Terdapat beberapa kemasan tape ketan hijau untuk menambah ketertarikan konsumen agar membeli jajanan tradisional. Setiap jenis kemasan memiliki harga yang berbeda mulai dari Rp15.000 hingga Rp1.800

“Harga tape ketan hijau yang dikemas menggunakan tepak seharga RP15.000 per biji. Kalau cup harganya Rp1.800, sedangkan menggunakan cartoon tambah Rp5.000. harga per bijinya enam ratus lima puluh,” paparnya.

Cara Agus Wardoyo agar makanan tape ketan hijau tetap eksis di era makanan yang serba instan saat ini. Ia tetap menjaga kualitas dengan tidak mengurangi atau menambahkan resep tape ketan hijau yang turun temurun
Dari orangtuanya. Selain itu, ia juga menggunakan cara promosi melalui sosial media maupun secara getok tular.

“Saya dulu memasarkan tape ketan hijau ini dengan cara dititipkan dari warung ke warung lainnya. Namun sering berjalannya waktu banyak pelanggan atau pembeli yang langsung datang sendiri ke rumah. Jadi sekarang saya sudah tidak menitipkan produk saya ke warung lagi,” jelasnya.

Pelanggan tape ketan hijau tidak hanya dari wilayah Jombang saja, melainkan sampai ke luar Kabupaten Jombang, bahkan sampai ke luar Pulau Jawa. Hal itu tidak lepas dari usahanya dalam menjaga olahan tape ketan hijau agar tetap nikmat.

“Pemasaran ini meliputi, Ngawi, Madiun, Surabaya, Madura, bahkan sampai wilayah Bali, dan Kalimantan,” paparnya.

Omset yang didapatkan oleh Agus Wardoyo ketika ramai lebih dari 3 juta dalam sehari satu atau dalam satu minggunya. Omset tersebut belum termasuk ke dalam uang untuk membeli bahan bakunya.

“Omset atau laba kalau ramai lebih dari 1 juta,” pungkasnya.

Berita Terkait