PETERONGAN, KabarJombang.com – Suara gambus mengalun syahdu memecah malam di Pasar Rakyat Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Sejak Senin (16/2/2026) malam, ruang publik itu berubah menjadi panggung kebudayaan dalam Gelar Pentas Seni dan Budaya Jombangan, menghadirkan ragam kesenian tradisional yang lekat dengan identitas lokal.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 ini berlanjut pada Selasa (17/2/2026) dengan penampilan musik patrol dan terbang jidor. Sejumlah kesenian lain seperti Tari Topeng, Tari Remo, Besutan, Ludrukan, hingga Gambus Misri turut memeriahkan agenda yang dipusatkan di Pasar Rakyat Desa Morosunggingan.
Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Permata Bangsa Nusantara Jombang bekerja sama dengan Pasar Rakyat Desa Morosunggingan, dalam kerangka pendayagunaan ruang publik berbasis masyarakat.
Ketua Pengelola Pasar Rakyat Morosunggingan, Cucuk Espe, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali ruang publik desa melalui aktivitas seni budaya.
“Kebetulan kami memiliki ruang publik yang memungkinkan untuk penyelenggaraan agenda berbasis masyarakat seperti ini. Mendapatkan amanah untuk menjalankan kegiatan kebudayaan, dan kami berkolaborasi agar manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya cucuk yang juga sebagai ketua panitia.
Rangkaian acara menampilkan kesenian khas Jombang seperti Gambus Misri, banjari, patrol, ludruk, Tari Topeng, dan Tari Remo. Peserta yang terlibat tidak hanya berasal dari Desa Morosunggingan, tetapi juga dari desa-desa dan kecamatan sekitar.
“Kalau ditotal, ada sekitar lima puluhan lebih peserta, baik perorangan maupun kelompok. Untuk Tari Remo dan Tari Topeng misalnya, ada yang dari desa kita sendiri dan ada juga dari desa tetangga,” jelasnya.
Menurut Cucuk, kegiatan seni budaya ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Dengan digelarnya pertunjukan di ruang publik, perputaran ekonomi kecil mulai dari pedagang hingga pelaku UMKM ikut terdorong.
“Kita ingin melalui aktivitas kesenian budaya ini ada bias ekonomi. Ketika ruang publik hidup, masyarakat berkumpul, berinteraksi, maka ada pergerakan ekonomi yang nyata,” katanya.
Momentum kegiatan yang digelar menjelang Ramadan juga dinilai memiliki benang merah dengan suasana religius masyarakat. Sejumlah penampilan seperti banjari menjadi bagian dari upaya menyambut bulan suci dengan kegiatan bernuansa religi.
“Kita ingin menyambut Ramadan dengan kegiatan yang positif dan berakar pada budaya sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Permata Bangsa Nusantara, Abdul Machin, mengatakan program ini merupakan bentuk pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan yang diarahkan untuk menguatkan ekosistem seni berbasis komunitas.
Machin sapaan akrabnya yang juga sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) Morosunggingan menjelaskan bahwa ruang publik desa memiliki potensi besar sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya masyarakat.
“Kegiatan ini bukan sekadar pentas, tetapi bagian dari upaya menghidupkan ruang-ruang publik agar menjadi wahana berkumpul, berinteraksi, sekaligus menggerakkan ekonomi warga,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak desa yang berani memanfaatkan ruang publiknya untuk kegiatan serupa, dengan dukungan pemerintah dan instansi terkait.
“Harapan kami, ruang publik di desa benar-benar hidup. Seni budaya tetap lestari, masyarakat terwadahi kreativitasnya, dan ekonomi warga ikut terdongkrak,” pesannya.









