Ngabuburit di Tepi Sungai Brantas Megaluh, Jombang, Menikmati Lalu-Lalang Prau Getek dan Hangatnya Senja

Foto : Salah satu pengunjung yang ngabuburit dengan menikmati view sungai brantas dan prau-prau getek yang mondar-mandir di Megaluh, Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

MEGALUH, KabarJombang.com – Bulan Ramadhan selalu menghadirkan tradisi khas menjelang waktu berbuka puasa. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengisi waktu sore hari atau yang biasa disebut dengan istilah ngabuburit. Di Kabupaten Jombang, salah satu lokasi yang kini ramai menjadi pilihan adalah Tambangan Prau Nogo Joyo yang berada di Desa/Kecamatan Megaluh.

Di tempat ini, suasana sore terasa berbeda. Prau getek, sebutan warga setempat untuk perahu penyeberangan tradisional tampak mondar-mandir menyebrangi aliran Sungai Brantas. Perahu-perahu tersebut menjadi penghubung antara Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang dengan Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk, serta Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang dan wilayah sekitarnya.

Baca Juga

Gemercik arus Sungai Brantas berpadu dengan lalu-lalang prau getek menciptakan pemandangan yang menenangkan. Saat matahari mulai condong ke barat, panorama semakin lengkap dengan semburat warna jingga keemasan yang memantul di permukaan air. Hijaunya tangkis atau tanggul sungai yang membentang di sisi aliran sungai menjadi latar alami yang mempercantik momen terbenamnya matahari.

Tak heran, setiap sore selama Ramadan, tepian tanggul dipadati berbagai kalangan. Mulai dari warga lokal yang sekadar duduk santai menunggu azan Magrib, hingga pengunjung dari luar Kecamatan Megaluh yang datang karena penasaran dengan suasana ngabuburit di lokasi tersebut.

Salah satunya adalah Fauziyah Az-Zahra (19), warga Kecamatan Sumobito. Ia mengaku sengaja datang setelah mendengar banyak rekomendasi dari teman-temannya serta melihat unggahan di media sosial.

“Saya penasaran karena banyak yang bilang suasananya beda. Biasanya ngabuburit di alun-alun atau tempat ramai, tapi di sini lebih tenang dan alami. Baru pertama kali saya merasakan sensasi seperti ini di Jombang,” ujarnya sambil menikmati pemandangan senja.

Menurutnya, melihat prau getek yang terus beroperasi membawa penumpang di tengah cahaya matahari yang mulai tenggelam memberikan pengalaman tersendiri. Ada kesan sederhana namun hangat, terlebih saat angin sore berembus pelan menyapu permukaan sungai.

“Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, ngabuburit di tepian Sungai Brantas, Megaluh, menghadirkan alternatif yang sederhana namun berkesan. Senja, aliran sungai, dan perahu-perahu kecil yang setia berlayar seolah menjadi pengingat bahwa keindahan sering kali hadir dalam hal-hal yang dekat dan apa adanya,” tutur Zahra sapaan akrabnya.

Hal serupa disampaikan M. Fadhul Raffi, (21) gen Z asal Kecamatan Kesamben. Ia datang bersama beberapa temannya untuk menghabiskan waktu menjelang berbuka.

“Awalnya cuma ikut teman. Ternyata seru juga. Bisa lihat langsung aktivitas penyeberangan, foto-foto dengan background sunset, dan suasananya nggak terlalu bising,” katanya.

Bagi Raffi sapaan akrabnya, lokasi tersebut bukan hanya tempat menunggu waktu berbuka, tetapi juga ruang berkumpul yang sederhana dan terjangkau. Tanpa perlu tiket masuk atau fasilitas mewah, pengunjung sudah bisa menikmati suguhan alam yang autentik.

Menurutnya, fenomena ramainya Tambangan Prau Nogo Joyo saat Ramadan menunjukkan bahwa daya tarik wisata tak selalu harus berupa bangunan megah atau wahana modern. Aktivitas tradisional seperti penyeberangan prau getek dan lanskap alam Sungai Brantas justru memiliki magnet tersendiri, terutama saat memasuki nuansa bulan suci Ramadan.

Berita Terkait