MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Sore yang teduh, di sebuah warung kopi Mojag Café, berlokasi di Mojoagung tampak berbeda dari biasanya. Bukan sekadar tempat ngopi atau berbincang santai, ruang itu seolah berubah menjadi arena perjalanan waktu. Sejumlah pegiat sejarah dan budaya berkumpul melingkar untuk menyingkap kisah lama Kabupaten Jombang yang selama ini nyaris terlupakan.
Binhad Nurrohmat, inisiator diskusi bertajuk “Prasasti Poh Rinting Titik Awal Sejarah Jombang”, yang memantik rasa ingin tahu orang-orang. Dengan penuh semangat, ia menceritakan bahwa Jombang ternyata memiliki jejak tertulis jauh lebih tua dibanding usia resmi kabupaten yang selama ini dikenal.
“Banyak orang mengira sejarah Jombang baru dimulai pada tahun 1910, saat pemerintahan kabupaten berdiri. Padahal, bukti tertulis menunjukkan jejak yang jauh lebih tua,” tutur Binhad membuka pembahasan.
Bukti yang dimaksud adalah dua prasasti kuno yakni Prasasti Poh Rinting dari Desa Glagahan, Kecamatan Perak, dan prasasti lain dari Desa Tengaran, Kecamatan Peterongan. Kedua prasasti tidak hanya berupa batu bertuliskan aksara kuno, melainkan juga saksi bisu lahirnya tatanan masyarakat Jombang pada abad ke-10.
Salah satu prasasti itu, yakni Poh Rinting, tercatat dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Medang pada tahun 929 Masehi. “Ini bukti tertulis tertua yang pernah ditemukan di Jombang. Menurut saya, inilah tonggak awal sejarah Jombang,” tegas Binhad.
Pernyataan itu seakan membuka cakrawala heruiskein bagi peserta diskusi. Apalagi, kehadiran dua narasumber dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), yakni Nona Nur Madina dari Jombang dan Rifatul Hasanah dari Mojokerto, semakin memperkaya pemahaman mengenai makna prasasti tersebut.
Lebih jauh, Binhad menekankan bahwa penanggalan prasasti Poh Rinting diperkirakan terjadi pada bulan Oktober tahun 929. Sebuah catatan yang menjadikan Jombang berbeda dari banyak daerah lain di Jawa Timur. “Tidak semua wilayah memiliki bukti sejarah seawal ini,” ujarnya.
Diskusi mengalir hangat seakan membawa angin sejuk terkait asal usul Jombang. Bagi sebagian peserta, membicarakan prasasti bukan hanya urusan sejarah kuno, melainkan juga cara untuk memahami jati diri daerah. “Ini bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun identitas lokal,” imbuh Binhad.
Kini, wacana tentang peninjauan ulang hari jadi Jombang mulai mengemuka. Sebagian pihak menilai, sudah saatnya masyarakat Jombang mengenal akar sejarahnya yang sesungguhnya, bukan hanya berdasarkan catatan administratif tahun 1910.
Prasasti Poh Rinting dan Tengaran memang hanya dua batu kuno yang diam di tempatnya. Namun, lewat aksara kuno yang terpahat rapi di permukaannya, generasi hari ini bisa menapaki kembali jalan panjang sejarah.
Jalan yang membawa masyarakat Jombang ke abad 10, pada masa Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Mpu Sindok. Mengenalkan Jombang sudah lebih dulu ada, jauh sebelum kita mengenalnya seperti sekarang.









