Kesenian Sandur Manduro, Warisan Budaya Majapahit yang Masih Bertahan di Pelosok Jombang

Foto : Penampilan pentas seni tari topeng Sandur Manduro khas Jombang yang sudah diakui dalam WBTB. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

KABUH, KabarJombang.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada segelintir seniman yang teguh menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah Rifai (43), Pembina Kesenian Sandur Manduro sekaligus pendiri Sanggar Tari Topeng Sandur Panji Arum yang berada di Dusun Gesing, Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Sandur Manduro adalah salah satu bentuk kesenian tradisional yang memadukan tari, topeng, musik bambu, dan narasi yang kuat dengan unsur sejarah kerajaan. Kesenian ini diyakini berasal dari masa Kerajaan Majapahit, bahkan disebut-sebut memiliki akar budaya dari wilayah Sumenep dan Lumajang, yang dikenal sebagai bagian dari kebudayaan Madura.

Baca Juga

“Di Desa Manduro itu dari dulu pakai bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari. Ini satu-satunya di Jombang. Jadi besar kemungkinan Sandur Manduro ini juga berasal dari pelarian zaman Majapahit, khususnya era Wiraraja,” jelas Rifai.

Ciri khas utama Sandur Manduro terletak pada penggunaan topeng Panji yang berasal dari Doho, Kediri. Selain itu, pertunjukannya hanya diiringi oleh lima alat musik berbahan dasar bambu, berbeda dari pertunjukan sandur lain yang umumnya memakai gamelan.

“Topeng dan musik bambu ini yang jadi pembeda utama. Kalau yang lain itu pakai gamelan, atau malah masuk ke kategori wayang topeng, bukan sandur,” tambahnya.

Sayangnya, pamor Sandur Manduro sempat meredup pada era 1990-an. Rifai mengenang masa keemasannya saat ia masih duduk di bangku SD tahun 1986. “Dulu tahun 80 sampai awal 90-an itu jaya-jayanya. Tapi habis itu mulai mati suri karena hiburan film dan video masuk ke desa-desa,” ujarnya.

Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Rifai kini kembali menghidupkan kesenian ini melalui Sanggar Tari Topeng Sandur Panji Arum. Dengan jumlah anggota aktif sebanyak 21 orang, sanggar ini rutin melatih anak-anak mulai dari tingkat PAUD hingga SMP.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai hidup lagi. Anak-anak dari TK, SD, sampai SMP sudah mulai belajar tari Sandur,” ucapnya dengan bangga.

Kabar baiknya, pada tahun 2017, Tari Sandur Manduro resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rifai sendiri yang langsung datang ke Jakarta untuk menerima penetapan tersebut.

Kini, Rifai berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah. “Harapan kami, Dinas Kebudayaan Jombang bisa ikut mendukung pelestarian dan pengembangan kesenian ini. Jangan sampai warisan leluhur ini benar-benar punah,” pungkasnya.

 

Berita Terkait