JOMBANG, KabarJombang.com – Sebuah diskusi santai membincangkan Sejarah Kabupaten Jombang telah diselenggarakan, oleh para pegiat, peneliti dan penulis sejarah Jombang. Acara yang digelar di rumah makan Pawon Jowo Denanyar Kabupaten Jombang ini, bertujuan untuk menggali lebih dalam akar peradaban Jombang serta mengidentifikasi potensi situs-situs sejarah untuk pengembangan di masa depan.
Dalam diskusi tersebut, hadir beberapa pegiat dan peneliti sejarah di antaranya, Binhad Nurrohmat, Dian Sukarno, Faisol hingga Andi Kepik dengan Zaenal Fanani sebagai moderator.
Binhad Nurrohmat menyoroti pentingnya kajian sejarah klasik dan kolonial di Jombang. Ia menyebutkan beberapa contoh seperti era Empu Sindok, Arimbi, serta masa kolonial yang melibatkan tokoh seperti Soekarno di Ploso dan Gedung Kejaksaan Kabupaten Jombang.
Binhad menekankan perlunya perhatian terhadap hasil kajian dan penetapan situs sejarah sebagai langkah mutlak untuk pengembangan.
Sementara itu, Dian Sukarno berbagi pengalamannya dalam mengumpulkan data sejarah. Sebagai mantan reporter radio, ia awalnya berhasil mengumpulkan 80 titik cerita unik dari juru pelihara punden-punden di desa-desa. Pengalaman ini mendorongnya untuk menerbitkan temuan-temuannya.
Dian juga menjelaskan enam pintu masuk historiografi yang bisa dilakukan, yaitu melalui artefak tua, arkeologi, etnoarkeologi, etnografi, topografi, dan toponimi. Dari asal-usul nama desa, ia berhasil mengumpulkan 400 titik yang telah dibukukan menjadi empat jilid.

Jombang sebagai Pusat Peradaban
Dian Sukarno lebih lanjut mengungkapkan bahwa Jombang memiliki 11 efek peradaban yang signifikan, mulai dari Mataram Kuno (Medang), Medang Kahuripan (Airlangga), Jenggala, Panjalu, Saha, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, Jipang, hingga era Kolonial.
Banyak artefak dan struktur bangunan arkeologi masih tersimpan di punden-punden dan makam di Jombang. Hal ini menunjukkan kekayaan sejarah Jombang yang perlu diselamatkan datanya.
Sejarah sebagai Sumber Daya dan Tantangan Penetapan Hari Jadi
Binhad Nurrohmat mengemukakan konsep bahwa sejarah adalah sumber daya, layaknya sumber daya alam atau manusia, yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, dan politik.
“Dengan membangun kesadaran ini, sejarah dapat memiliki dampak konkret dan berguna, bukan hanya sekadar pencatatan. Penetapan situs cagar budaya oleh pemerintah akan membuka jalan bagi pengembangan, pemugaran, atau pemanfaatan sebagai aset wisata, sekaligus menjadi pengakuan atas hasil riset dan penelitian,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Binhad itu.
Diskusi juga menyentuh isu sensitif terkait penetapan hari jadi Kabupaten Jombang. Dian Sukarno mengutip Jurilina yang menyatakan bahwa untuk menghancurkan bangsa, ada tiga cara: memutuskan generasi muda dari akar sejarahnya, menghancurkan situs-situsnya, dan menganggap nenek moyang bodoh dan primitif.
“Dalam konteks Jombang, terdapat perbedaan pandangan antara kubu Empu Sindok dan kubu Airlangga mengenai hari jadi. Bupati Mundjidah waktu itu, akhirnya menetapkan hari jadi Pemkab (bukan hari jadi Jombang) untuk mengatasi permasalahan yang runcing ini,” ungkap Dian Sukarno.
Rekomendasi dan Harapan
Sementara itu, Moderator Zaenal Fanani menutup bincang santai ini dengan menyatakan bahwa hasil diskusi dan rekomendasi yang telah disepakati akan diajukan kepada Bupati Jombang.
“Harapannya, Bupati dapat mendengarkan langsung masukan-masukan ini demi kebaikan Jombang di masa depan. Salah satu rekomendasi yang muncul adalah pengelolaan Ploso yang lebih baik untuk wisata, terutama di titik-titik yang berhubungan dengan sejarah Bung Karno,” pungkasnya.









