BARENG, KabarJombang.com – Hembusan angin dan musim panas seolah menjadi berkah tersendiri bagi para pengerajin layang-layang. Seperti yang dirasakan oleh Julianto (31) warga Dusun Banjarsari, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Jombang. Ia memproduksi berbagai macam jenis layang-layang, salah satunya yakni layang-layang pegon ceper.
Ia mengaku sudah 7 tahun menekuni kreasi dari bambu dan plastik tersebut. Berawal dari hobi, Julianto tetap terus setia menekuni kerajinan mainan tradisional hingga akhirnya kini menjadi salah satu sumber mata pencahariannya.
Julianto menceritakan alasannya tetap memilih atau menekuni kerajinan layang-layang, sekalipun hanya ramai pemesanan ketika bulan-bulan tertentu.
“Alasannya tetap menekuni kerajinan ini karena berangkat dari kesenangan dalam diri saya. Saya senang ketika membuat kerajinan layang-layang. Kemudian kesenangan itu saya coba aplikasikan untuk membuat layang-layang lebih banyak lagi dengan berbagai macam kreasi, salah satunya layangan pegon ceper. Lalu, ketika saya tidak punya pemasukan, saya mencoba memposting hasil karya saya di medsos dan responnya bagus banyak yang memesan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan perbedaan jenis layang-layang pegon ceper dengan jenis layang-layang lainya. Menurutnya layang-layang pegon ceper memiliki kemudahan dalam segi pembuatannya, ketimbang jenis layang sawang lainnya.
“Kalau layangan pegon ceper pembuatannya lebih mudah, dari Padang jenis layang sawang yang kerangkanya terbuat dari ram-raman. Sedangkan, layangan pegon ceper memiliki kerangka layangan yang simpel ditambah motif lebih simpel,” paparnya.
Sehari, Julianto mampu menghasilkan 5 kreasi layang-layang yang dikerjakannya bersama istri. Layang-layang tersebut memiliki ukuran 90 cm dengan lebar 140 cm.
Kemampuannya mengelola bambu menjadi sebuah kreasi layang-layang, tidak lepas dari berbagai macam permasalahan ketika ia memproduksi layangan. Permasalah tersebut salah satunya yakni ketersediaan bahan baku bambu.
“Kesulitan saat ini dari ketersedian bahan baku bambu. Jenis Bambu yang saya gunakan adalah bambu petung. Bambu tersebut memiliki ros lebih panjang-panjang dan lebih lurus, ketimbang bambu-bambu lainnya,” ungkapnya.
Satu batang bambu petung mampu menghasilkan 35 sampai 40 layangan pegon ceper. Saat ini Julianto membeli bambu-bambu dari luar wilayah Desa Bareng untuk mengatasi permasalahan keterbatasan bahan baku bambu petung.
Ia mematok harga layang-layang mulai dari harga grosiran satu bijinya yakni Rp 40.000, sedangkan harga eceran memiliki harga lebih tinggi ditambah mendapatkan fasilitas seting layang-layang hingga siap terbang.
“Harga eceran untuk ukuran 90 cm Rp 80.000 sampai Rp 90.000 sudah termasuk seting layang-layang atau seting tali goci sebagai pengatur layang-layang ketika terbang. Harga paling mahal disini Rp100.000 sampai Rp150.000 terganggu ukuran dan bahan yang digunakan,” jelasnya.
Keuntungan dari kemampuannya menyalurkan hobi dan kesenangan dalam diri ketika mengimplementasikan sebuah karya di atas bambu dan plastik. Menjadi keberkahan tersendiri bagi Julianto. Satu bulan ketika ramainya pemesanan Julianto mampu meraup keuntungan lebih dari Rp 5.000.000.
“Ramai pemesanan layang-layang biasanya mulai dari bulan 5 sampai bulan 9. Ketika pemesanan ramai satu bulan bisa menghasilkan uang kurang lebih Rp 6.000.000, sedangkan ketika sepi pemesanan 3 hari saya hanya bisa menghabiskan Rp 300.000,” tuturnya.
Saat ini, Kerajinan layang-layang karya Julianto tidak hanya dinikmati oleh warga-warga lokal saja, melainkan tersebar hingga keluar Kabupaten Jombang.
“Pemesanan layang-layang paling jauh ke Kediri, Mojokerto, Gresik, Ponorogo, hingga Yogyakarta,” jelasnya.
Terdapat ciri khas dari layang-layang kreasi miliknya. Ciri khas tersebut terletak dari bahan perekatnya. Biasanya layang-layang menggunakan lem perekat untuk merekatkan plastik dengan kerangka layang-layang. Namun Julianto memiliki perbedaan ketika akan melekatkan plastik dengan kerangka layang-layang.
“Ciri khas layang-layang milik saya yakni, bahan perekatnya. Saya menggunakan obat nyamuk terkadang menggunakan solder untuk merekatkan plastik dengan kerangka layang-layang. Dampaknya, ketika menggunakan lem, nanti pinggiran layang-layang atau plastik yang sudah ditekuk akan terlihat tidak rapi,” pungkasnya.









