JOMBANG, KabarJombang.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang diprediksi meningkat pada awal tahun, khususnya sepanjang Januari hingga Februari. Sejumlah langkah strategis telah disiapkan guna meminimalkan risiko dampak bencana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang memperkuat koordinasi lintas sektor, menyiapkan personel, serta memastikan kesiapan peralatan di lapangan. Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, menyampaikan bahwa Bupati Jombang telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) sebagai pedoman kesiapsiagaan bersama.
“Pemerintah daerah sudah mengeluarkan surat edaran bupati kepada seluruh OPD terkait kesiapsiagaan bencana. Bahkan di tingkat kecamatan juga telah dibentuk posko siaga bencana untuk menghadapi potensi hidrometeorologi,” ujar Wiku, Minggu (25/1/2026).
Dalam upaya pencegahan, BPBD Jombang terus menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi prakiraan cuaca digunakan sebagai dasar pengambilan langkah teknis, termasuk pengendalian aliran air saat curah hujan tinggi.
“Ketika ada indikasi hujan lebat, kami segera berkoordinasi dengan dinas teknis terkait, terutama dalam pengaturan pintu air agar tidak terjadi luapan,” jelasnya.
Selain itu, mitigasi juga difokuskan pada pembersihan saluran air yang rawan tersumbat. BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum secara rutin melakukan penanganan di titik-titik rawan banjir, terutama pada aliran sungai yang kerap membawa material seperti sampah dan bambu saat debit air meningkat.
“Jika terjadi banjir kiriman, biasanya membawa material yang dapat menyumbat jembatan sehingga air meluap. Hal ini selalu kami antisipasi melalui koordinasi dengan Dinas PU untuk segera dilakukan pembersihan,” tambahnya.
Untuk memastikan kesiapan sumber daya manusia, Pemkab Jombang juga telah menggelar apel gabungan kesiapsiagaan. Kegiatan ini bertujuan agar seluruh unsur terkait siap bergerak cepat dalam penanganan dan pelayanan kepada masyarakat jika terjadi bencana.
“Kami sudah melaksanakan apel besar kesiapsiagaan. Jadi ketika terjadi bencana, seluruh personel sudah siap memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak,” kata Wiku.
Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan masih berlangsung hingga Februari. Potensi banjir luapan disebut berasal dari wilayah hulu seperti Kota Batu dan Kandangan, Kediri, yang dapat berdampak ke wilayah Kecamatan Wonosalam, Jombang.
“Jika curah hujan tinggi di daerah hulu, maka Wonosalam berpotensi terdampak luapan,” ungkapnya.
Selain Wonosalam, kawasan Kademangan dan Kauman di Kecamatan Mojoagung juga menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus karena sering mengalami luapan air.
Meski demikian, BPBD Jombang memastikan kesiapan penuh dalam menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk evakuasi warga dan penyediaan dapur umum melalui Tagana apabila dibutuhkan.
“Seluruh SDM, peralatan, hingga alat berat dalam kondisi siap. Bahkan untuk kejadian skala kecil seperti pohon tumbang, perlengkapan tanggap darurat terus kami operasikan,” pungkas Wiku.
BPBD Jombang mengimbau masyarakat agar tetap waspada selama musim hujan, tidak panik, serta mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama.









