Pengeroyokan Pelajar di Jombang, Cabdisdik Minta Laporan dari Sekolah

Ilustrasi. (Istimewa).
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com- Terkait pengeroyokan sekelompok pelajar di Jalan Raya Sumobito-Mojoagung, Jombang. Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Jatim, Wilayah Jombang, minta laporan dari pihak sekolah bersangkutan.

“Saya sudah konfirmasi ke Kepala Sekolahnya sebagai korban, ada dua korban pelajar dari SMK YPM Sumobito. Saya juga minta kepala sekolah untuk membuat laporan tertulis terkait kronologinya, hari ini saya tunggu,” kata Kepala Seksi SMK Cabdisdik Jombang, Elfian Rosadi, Jumat (9/4/2021).

Baca Juga

Selain itu, permintaan laporan tertulis itupun juga ia minta dari kepala sekolah dari pihak pengroyok yakni dari SMK Kusuma Negara Mojoagung.

“Demikian juga dari siswa pengroyoknya, pihak sekolah juga saya minta untuk membuat laporan tertulis. Dan itu kemarin siswa pengroyoknya dari SMK Kusuma Negara. Soalnya kan ada yang ditahan kemarin,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang serupa. Pihaknya akan melakukan kerjasama dan koordinasi dengan MKKS, beserta pihak kepolisian setempat.

“Nanti juga akan ada tindak lanjut untuk komunikasi dengan pihak kepolisian, jelas itu nanti, biar tidak ada lagi kejadian seperti kemarin. Paling tidak nanti harus ada  koordinasikan dengan pihak Polsek atau Polres Jombang,” pungkasnya.

Dewan Pendidikan (DP) Jombang, sebagai mitra pemerintah dalam mewadahi dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam melanggengkan program pendidikan di Kabupaten Jombang, juga merespon kasus pengeroyokan pelajar tersebut.

“Itulah yang terjadi saat ini, bahwa pendidikan berkarakter di kita itu belum menunjukkan kepositifan. Karena, jika sekolah itu mengoptimalkan pendidikan berkarakter secara humanisme dan semacamnya itu. Saya yakin mereka akan memiliki spiritualisme untuk tidak melakukan hal seperti itu (pengeroyokan),” kata Ghufron Ketua DP Jombang, saat ditemui di kantornya, Kamis (8/4/2021).

Adanya aksi pengeroyokan yang terjadi antar pelajar tersebut Ghufron mengaku kecewa. Sebab, katanya,  kejadian tersebut sebagai bukti bahwa sekolah dalam mengantisipasi para siswa saat keluar dari sekolah belum ada.

Menurutnya, pihak sekolah harus bekerjasama dengan para tokoh masyarakat dan pemerintah setempat yang ada dimasing-masing wilayah Kecamatan. Hal ini untuk memantau para siswa saat keluar dari lingkungan sekolah.

“Kami (DP) pun sudah menyampaikan kepada Kepala Satpol PP. Jadi, kami mohon bahwa Satpol PP juga akan berperan aktif, mana kala anak-anak sudah keluar dari sekolah, bagaimana sebenarnya peran Satpol PP,” ungkapnya.

Menurut Gufron, jika keterbatasan anggota Satpol PP menjadi salah satu kendala, Maka seyogyanya Satpol PP bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, dari masing-masing wilayah. Dimana setiap wilayah dengan mengoptimalkan peran dari para kantip.

“Di sekolah sudah dioptimalkan, tapi setelah anak keluar dari sekolah peran orangtua belum maksimal. Dan seharusnya ini tidak terjadi di kita, karena Jombang ini kan juga terkenal dengan berkarakter dan berdaya saingnya,”ungkapnya.

“Jika memang Dinas Pendidikan ataupun Cabang Dinas belum mengoptimalkan pemantauan itu. Maka kerjasama lah dengan masyarakat yang memiliki tupoksi untuk mengamankan, memantaukan dari masyarakat tersebut,”pungkasnya.

Berita Terkait