DIWEK, KabarJombang.com – Pesantren Tebuireng, Diwek, Jombang kembali menegaskan perannya sebagai pusat khazanah keilmuan Nahdlatul Ulama dengan meluncurkan ulang Kitab Qanun Asasi, karya monumental pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kitab ini dinilai sebagai fondasi ideologis dan etika berorganisasi bagi warga nahdliyin.
Peluncuran kitab berlangsung di Masjid Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu (17/12/2025), bersamaan dengan rangkaian peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) serta haul para masyayikh Tebuireng. Ratusan jamaah dan tokoh NU turut menghadiri kegiatan tersebut.
Prosesi launching diawali dengan pembacaan muqaddimah Qanun Asasi oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), yang kemudian dilanjutkan oleh KH Fahmi Amrullah Hadziq. Sementara itu, bagian akhir kitab berupa 40 hadis dibacakan oleh Dr. KH M Afifuddin Dhimyati, Pengasuh Asrama Hidayatul Qur’an Pondok Pesantren Darul Rejoso.
Dalam sambutannya, Gus Kikin menegaskan bahwa Qanun Asasi merupakan landasan penting berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama yang hingga kini tetap relevan dan berperan besar di tengah masyarakat.
“NU berdiri dengan pijakan nilai yang jelas melalui Qanun Asasi. Karena itu, kitab ini penting dibaca dan dipahami agar kita mengerti warisan pemikiran Hadratussyaikh,” ujar Ketua PWNU Jawa Timur tersebut.
Setelah pembacaan kitab, peluncuran dilanjutkan dengan penyerahan simbolis Qanun Asasi kepada KH Fahmi Amrullah Hadziq selaku dzurriyah Tebuireng dan Ketua PCNU Jombang. Penyerahan juga dilakukan kepada perwakilan PWNU Jakarta yang merupakan alumni Pesantren Tebuireng.
Gus Fahmi sapaan akrabnya menekankan bahwa Qanun Asasi seharusnya menjadi bacaan wajib bagi seluruh struktur NU. Ia juga mengapresiasi kerja tim yang telah melakukan penulisan ulang kitab tersebut.
“Menjadi pengurus NU bukan sekadar administratif, tetapi juga amanah perjuangan. Qanun Asasi ini menjadi pengingat nilai dasar itu,” tutur Ketua PCNU Jombang tersebut.
Ke depan, kitab Qanun Asasi direncanakan akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat dipelajari lebih luas oleh seluruh kalangan nahdliyin.
Peluncuran kitab ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah lembaga, antara lain Tebuireng Institute, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNNU) PCNU Jombang, serta Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE).
Ketua Tebuireng Institute, Achmad Roziqi, menjelaskan bahwa penulisan ulang Qanun Asasi dilakukan sebagai upaya menjaga keberlanjutan pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang sempat jarang diakses oleh warga NU.
“Kitab ini adalah salah satu karya utama KH Hasyim Asy’ari. Kami merasa berkewajiban menghadirkannya kembali dengan tampilan dan kualitas yang lebih baik agar bisa dipelajari secara luas,” jelasnya.
Roziqi berharap kitab tersebut dapat menjadi rujukan utama bagi santri dan pengurus NU dalam bersikap, berpikir, serta berkhidmat kepada umat.
Sebagai catatan, Qanun Asasi pertama kali ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari sekitar satu abad lalu, bersamaan dengan berdirinya NU. Kitab ini memuat prinsip-prinsip dasar kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara bagi warga NU.
Penulisan ulang versi Arab dilakukan oleh Tebuireng Institute dengan melalui proses pengetikan ulang, tahqiq, dan tata letak ulang, kemudian diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng. Langkah ini diambil sebagai respons atas semakin langkanya naskah Qanun Asasi di tengah masyarakat.
Tim penulis yang terlibat antara lain Ilham Zidal Haq, Iqbal Nursyahbani, Viki Junianto, Wildan Ulumul Fahmi, M Minahul Asna, dan Falikh Haidar al-Habsy.









