JOMBANG, KabarJombang.com – Jombang kerap disebut Kota Santri, tempat tradisi keilmuan tumbuh dari pesantren, madrasah, dan diskusi-diskusi kecil yang berlangsung jauh dari sorotan. Dari lanskap kultural inilah Aang Fatihul Islam menapaki jalan hidupnya sebagai akademisi, penulis, dan penggerak literasi.
Bagi Aang, ilmu tidak cukup berhenti di ruang kelas atau lembar catatan. Ia harus ditulis, disebarluaskan, dan diwariskan lintas generasi.
Lahir pada 21 September 1985, Aang menghabiskan masa kecil hingga remajanya di lingkungan pendidikan keagamaan. Pendidikan dasar ia tempuh di MI Mamba’ul Ma’arif Karangdagangan, dilanjutkan ke MTs Bahrul Ulum Gadingmangu Perak, dan MAN Denanyar Jombang. Jalur pendidikan tersebut membentuk corak keilmuannya yang religius, reflektif, sekaligus membumi.
Ketertarikan pada bahasa kemudian mengantarkannya menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP PGRI Jombang. Ia menyelesaikan studi sarjana pada 2009, lalu melanjutkan pendidikan magister di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan lulus tiga tahun kemudian.
Di UNESA, Aang bersentuhan lebih dekat dengan dunia sastra. Ia belajar langsung dari sastrawan nasional Budi Darma, pengalaman yang menurutnya memperkaya cara memahami teks dan manusia.
“Sastra melatih kepekaan, bukan hanya kemampuan membaca teori,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).
Di luar dunia kampus, Aang juga menjalani proses kepesantrenan. Ia pernah mondok di Pondok Pesantren At-Taqwa Doro Karangdagangan, Mamba’us Salam Pedes Perak, serta Mamba’ul Ma’arif Denanyar. Perjumpaan antara tradisi akademik dan pesantren inilah yang kemudian menjadi fondasi utama perjalanan intelektualnya.
Pengabdian Aang di dunia pendidikan bermula dari tingkat akar rumput. Ia pernah mengajar di MI Mamba’ul Ma’arif Karangdagangan serta menjadi tutor Paket B dan C di PKBM Eljimas. Di ruang-ruang belajar sederhana itu, ia berhadapan langsung dengan realitas pendidikan masyarakat desa, penuh keterbatasan sekaligus harapan.
Pengalaman tersebut membawanya ke ranah perguruan tinggi. Aang sempat mengajar di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saat ini, ia berstatus sebagai dosen tetap Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas PGRI Jombang.
Selain mengajar, ia juga dipercaya menjalankan tugas sebagai Gugus Kendali Mutu (GKM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dalam dunia akademik, Aang dikenal sebagai editor buku ilmiah, reviewer jurnal nasional dan internasional, serta pendamping penulisan karya ilmiah dosen dan mahasiswa.
Sejumlah hibah penelitian nasional, mulai dari PDP, PDUPT hingga Hibah Fundamental, pernah ia peroleh. Ia juga terlibat sebagai Dosen Pembimbing Lapangan Program Kampus Mengajar serta mengantongi Sertifikat Penulis Buku Nonfiksi dari BNSP.
“Ilmu akan mati jika hanya disimpan. Ia hidup ketika dibagikan,” tuturnya.
Di luar kampus, Aang aktif di berbagai organisasi literasi dan kebudayaan. Ia pernah menjabat Sekretaris ALTI Cabang Jombang, Ketua Lingkar Studi Santri (LISSAN), Sekretaris Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang, hingga pengurus pusat ALTI dan IKA UNESA.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Aang dipercaya sebagai Ketua Pengurus Cabang Lembaga Dakwah NU (PC LDNU) Kabupaten Jombang. Dari posisi inilah ia mengembangkan konsep dakwah kultural berbasis literasi.
“Dakwah tidak harus selalu di mimbar. Tulisan dan buku juga bisa menjadi medium,” katanya.
Menurutnya, menulis sejarah ulama, mendokumentasikan pemikiran, dan merekam jejak keislaman merupakan bentuk dakwah yang sunyi, tetapi memiliki daya jangkau panjang.
Produktivitas Aang tercermin dari karya-karyanya. Lebih dari 20 buku telah ia terbitkan, baik fiksi maupun nonfiksi. Topiknya beragam, mulai dari sastra, linguistik, pendidikan, pesantren, hingga sejarah ulama.
Sejumlah judul di antaranya Introduction to Literature, Stilistika Antara Bahasa dan Sastra, English for Pesantren, Kanjeng Sepuh Jombang, Kyai Langit, dan Cahaya Sang Kiai.
Kesadaran akan pentingnya ekosistem literasi mendorongnya mendirikan Pena Langit Publishing pada 2023. Dalam kurun dua tahun, penerbit independen tersebut telah menerbitkan puluhan judul buku dari berbagai penulis dan disiplin ilmu. Saat ini, Aang menjabat sebagai Direktur Utama.
“Menerbitkan buku adalah kerja yang sering tak terlihat. Tapi di sanalah peradaban dirawat,” ujarnya.
Aang juga aktif mengisi ruang publik sebagai narasumber pelatihan kepenulisan, pengisi podcast Radio Suara Jombang FM, serta terlibat dalam Pojok Literasi Sejarah Jombang yang mengangkat tema menulis sebagai sarana self-healing.
Kini, ia tengah meneliti jejak Laskar Pangeran Diponegoro di wilayah Jawa Timur, sembari terus menulis di berbagai media cetak dan daring. Baginya, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk pengabdian jangka panjang.
Dari Jombang, Aang Fatihul Islam terus menyalakan cahaya literasi secara sunyi namun konsisten, dengan keyakinan bahwa kata-kata mampu menjaga ingatan dan menuntun masa depan.
“Selama masih ada kata yang bisa ditulis, cahaya ilmu harus tetap dijaga,” pungkasnya.









