WONOSALAM, KabarJombang.com – Musim panen membawa berkah bagi para petani di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Setelah durian bido yang lebih dulu menjadi ikon daerah, kini giliran buah matoa yang menarik perhatian.
Tahun ini, hasil panen matoa di wilayah lereng Gunung Anjasmoro meningkat signifikan dengan kualitas yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Heri Susanto, petani asal Dusun Pucangrejo, Desa Wonosalam, menyebutkan bahwa tahun ini merupakan puncak produksi dengan hasil panen yang melimpah.
“Alhamdulillah, tahun ini panen melimpah. Kalau tahun kemarin hasilnya di bawah lima kwintal, sekarang bisa mencapai satu ton,” ujarnya, Senin (10/11/2025).
Menurut Heri, kondisi cuaca yang stabil justru menjadi faktor pendukung peningkatan produksi. Meski sebelumnya sempat terjadi cuaca ekstrem, hal itu tidak berdampak negatif pada pertumbuhan buah matoa.
“Cuaca sekarang malah bagus buat matoa. Kalau dulu satu pohon cuma bisa 100 kilo, sekarang bisa lebih dari 200 kilo. Artinya ada peningkatan sekitar 50 persen,” jelasnya.
Ia menjelaskan, panen buah matoa di Wonosalam umumnya dapat dilakukan hingga tiga kali dalam setahun, dengan puncak panen terjadi pada November hingga Desember. Untuk menjaga kualitas, setiap dompol buah dibungkus jaring agar terhindar dari serangan hewan serta memudahkan proses pemanenan.
Harga jual buah matoa di pasaran bervariasi, berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 35.000 per kilogram, tergantung pada kualitas dan jenisnya.
“Kalau matoa super harganya Rp 35.000 per kilo, sedangkan kualitas biasa mulai Rp 20.000,” tambahnya.
Tantangan utama dalam budidaya matoa terletak pada kondisi cuaca ekstrem. Untuk mengatasinya, para petani menerapkan pemupukan berkala, terutama menggunakan pupuk organik guna menjaga kesuburan tanah dan kualitas buah.
“Kuncinya di perawatan dan pemupukan yang tepat. Kalau panas terlalu lama, memang bisa memengaruhi hasil,” ujarnya.
Buah matoa dari Wonosalam kini tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga menarik pembeli dari luar daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, hingga Jakarta.
Selain dijual langsung kepada wisatawan, sebagian hasil panen juga dikirim untuk memenuhi permintaan reseller luar kota.
Jenis matoa yang banyak dibudidayakannya adalah Matoa Kelapa, dikenal memiliki cita rasa khas perpaduan antara rambutan, leci, dan durian.
Sania Nur Aini (23), pengunjung asal Kediri, mengaku penasaran dengan rasa buah yang berasal dari Papua tersebut.
“Rasanya kayak campuran rambutan, leci, sama durian. Enak banget, ini pertama kali saya coba,” ungkapnya usai membeli beberapa kilogram matoa.









