Takjil Tumpeng Jajanan Tradisional di Jombang Laris Manis Saat Ramadan

Foto : Tumpeng jajan tradisional milik pasangan suami istri, Roni Purwanto dan Nurkolifa (20/4/2022)./Ema/
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Ada makanan takjil dengan penampilan baru di Kabupaten Jombang. Takjil tersebut berupa tumpeng berisi makanan jaman dulu (jadul) sekitar tahun 90 an. Sehingga penampilannya terlihat baru dan cantik, serta cocok bagi warga Jombang yang ingin nostalgia dengan jajan tradisional tersebut.

Tak hanya tampil modis, rupanya usaha takjil tumpeng jajan tradisional milik pasangan suami istri bernama Roni Purwanto (40) dan Nurkolifa (40) di bulan Ramadan 1443 Hijiriah ini, laris manis.

Baca Juga

Mereka membuat dan melayani pesanan sendiri di kediamannya yang terletak di Dusun Jombang Krajan, Desa Jombang, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

“Ya Alhamdulillah saja, masih diberikan kelancaran untuk menjalani usaha takjil tumpeng jajanan tradisional ini. Tapi ya gitu, tak se lancar tahun sebelumnya. Karena tau sendiri, harga bahan baku sekarang sudah banyak yang tambah tinggi atau mahal,” ujar Nurkolifa kepada awak media pada Selasa (20/4/2022).

Naiknya beberapa bahan baku di pasaran, sangat dirasa membebankan. Selain harus menyesuaikan harga pesanan, Nurkolifa mengaku juga harus mempertahankan pelanggan yang sudah setia melakukan pesanan.

Guna melancarkan usahanya, kata Nurkolifa memanfaatkan adanya media sosial yang difungsikan untuk menyebarkan informasi. Tentunya memasarkan foto usahanya seperti di aplikasi WhatsApp, Facebook dan lain sebagainya.

“Kalau biasanya saya jual di pasar Legi Jombang itu, tapi ketika Ramadan ini sudah cukup menerima pesanan online atau datang ke rumah langsung saja. Bersyukur mas, pesanan sampai saat ini masih tiada henti,” jelasnya saat ditemui.

Lanjut Nurkolifa, seporsi tumpeng takjil itu berisi penuh dengan variasi jajanan Ndeso tahun 90 an. Mulai dari terdapat 5 macam jajan, hingga 10 macam atau menyesuaikan permintaan pemesanan.

Jajanan tradisional dalam tumpeng tanpa nasi itu disebutkan diantaranya seperti klepon, sawut, tiwul, ijo-ijo, puro, klanting, gethuk, mata roda, lupis, dan lain sebagainya. Namun demikian, ia meminta bagi pelanggan agar memesan H-1 atau H-2 sebelum permintaan jadi.

“Kalau macam isi jajanannya, kami sesuaikan dengan permintaan pelanggan. Makanya sebelum pesan, pasti kami jelaskan. Kalau yang kami minta untuk pesan H-1 atau H-2 sebelum tanggal jadi itu, ya karena memang tenaga kerjanya cuma saya dengan suami saja,” katanya.

Kendati demikian, pesan usaha yang sudah dijalani sekitar kurang lebih 4 tahunan itu sudah tembus luar daerah Jombang. Mulai dari Kediri, Mojokerto, Bojonegoro dan lain sebagainya yang masih masuk wilayah Jawa timur.

“Pemesanan sudah ada luar kota, tapi tetap masih banyak warga Jombang sendiri. Soal harga bervariasi, yang berisi 5 macam jajanan itu harganya 150 ribu rupiah, sedangkan untuk tumpeng yang berisi 10 macam jajanan itu, harganya 300 ribu rupiah. Ya menyesuaikan permintaan kalau memang ada permintaan lainnya,” paparnya.

Sementara Roni menceritakan, pihaknya menjalani usahanya tersebut berawal dari bingung mencari pekerjaan hingga memilih untuk belajar bersama dengan orang tuanya. Hingga kini tetap bertahan dikarenakan sudah dinilai lumayan lancar.

“Kebetulan dulu istri saya ini membantu ibunya berjualan jajanan tradisional di Wiyung. Ya kemudian sekalian belajar bersama gitu untuk menjalani usaha ini,” kata Roni sembari membuat getuk lindri.

“Kalau harapannya, kedepannnya semoga tetap di berikan kelancaran dan kesehatan saja. Gak cuma tumpeng, pesen atau beli bingkisan kotak jajan tradisional ini juga bisa. Soal harga ada yang 25 ribu, ada juga yang 3 ribu dan ada juga yang 5 ribu. Kalau yang pakai kemasan plastik mika harganya 10 ribu, bervariasi juga pokoknya tergantung permintaan pemesanan,” lanjutnya memungkasi.

Iklan Bank Jombang 2024

Berita Terkait