MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Seorang santri Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, menceritakan pengalamannya saat mengalami dugaan keracunan makanan usai menyantap menu berbuka puasa pada Kamis (5/3/2026). Santri tersebut mengaku sempat mencium bau tidak sedap dari telur asin yang menjadi bagian dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Santri bernama Azizah Putri Salsabila (15) asal Surabaya mengatakan dirinya menyantap nasi rawon bersama dua butir telur asin saat berbuka puasa di lingkungan pesantren. Menurutnya, nasi rawon yang ia makan terasa normal seperti biasanya.
Namun, ia merasakan kejanggalan pada telur asin yang disajikan. Azizah mengaku telur tersebut memiliki aroma tidak sedap dan rasa yang berbeda dari biasanya.
“Rasa rawonnya biasa saja. Tapi waktu makan telur asin itu baunya sedikit busuk dan rasanya juga aneh,” ujarnya saat ditemui di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung, Jombang, Jumat (6/3/2026).
Meski sempat menyadari aroma yang kurang sedap, Azizah tetap menghabiskan dua butir telur asin tersebut. Tidak lama setelah makan, ia mulai merasakan pusing dan mual.
Kondisinya kemudian semakin memburuk ketika ia mengalami muntah berulang dan tubuh terasa lemas. Pihak pesantren pun segera membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
“Setelah makan itu saya langsung merasa pusing dan mual, lalu muntah. Badan juga terasa lemas,” katanya.
Saat ini Azizah masih menjalani perawatan di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung. Ia mengaku kondisinya mulai membaik dibandingkan saat pertama kali dilarikan ke rumah sakit.
“Alhamdulillah sekarang sudah tidak muntah-muntah, tinggal pusingnya saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung, dr. Dwi Rizki Wulandari, mengatakan pihaknya menerima puluhan santri dengan keluhan serupa sejak Kamis (5/3/2026) malam. Para pasien datang dengan gejala pusing, mual, muntah, serta kondisi tubuh yang lemas.
“Mayoritas pasien datang dengan keluhan pusing, mual, dan muntah. Saat tiba di rumah sakit sebagian terlihat cukup lemas,” ujarnya.
Ia menjelaskan tim medis langsung melakukan penanganan awal sesuai prosedur kegawatdaruratan, seperti memastikan kondisi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi tubuh pasien tetap stabil.
Menurutnya, hingga Jumat (6/3/2026) pagi sebanyak 28 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, beberapa pasien direncanakan dapat menjalani rawat jalan karena kondisinya mulai membaik.
“Tadi malam setelah penanganan awal kondisi mereka sudah stabil. Pagi ini kami lakukan pemeriksaan ulang dan sebagian besar keluhan pasien sudah berkurang,” kata dr. Kiki, sapaan akrabnya.
Sebelumnya, sebanyak 31 santri Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan setelah menyantap hidangan berbuka puasa yang terdiri dari nasi rawon yang dimasak pihak pesantren serta telur asin menu kering dari program MBG di SPPG Desa Betek.
Pihak terkait saat ini masih melakukan penelusuran serta uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.









