Forum Jaga Kota Santri, Warga Diwek Soroti Maraknya Kos-kosan Tanpa Aturan yang Jelas

Foto: Forum Jaga Kota Santri di Kecamatan Diwek yang dihadiri Wakil Bupati Jombang
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Masyarakat Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang menggelar Forum Jagongan Gayeng Kota Santri (Jaga Kota Santri) di Pendopo Kecamatan Diwek, Selasa (28/10/2024). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Jombang, Asisten 1, Asisten 3, Perwakilan Polres Jombang, sejumlah OPD, Camat, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kepala desa se Kecamatan Diwek.

Sejumlah permasalahan serius dibahas dalam forum tersebut. Mulai dari kos-kos an, UMKM hingga pengelolaan sampah yang belum tertangani dengan baik.

Baca Juga

Salah satu yang menjadi perhatian dalam forum tersebut yakni terkait maraknya Kos-kosan di Kecamatan Diwek, namun tanpa peraturan yang jelas. Bahkan, banyak Kos-kosan dimana masyarakat merasa terlalu bebas orang keluar masuk. Padahal, di Kecamatan Diwek sendiri, banyak berdiri Pondok Pesantren, salah satunya adalah Pesantren Tebuireng.

“Memang masalah Kos-kosan disini menjadi permasalahan sejak dulu. Waktu saya Mondok di Tebuireng (Madrastul Qur’an) juga sudah menjadi masalah serius di kalangan Pesantren. Jadi hari ini saya mau mendengar dan merekam dari masyarakat Diwek, dan insya Alloh nanti saya akan bahas bersama Bupati bagaimana membuat peraturannya,” ungkap Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid.

Pria yang akrab disapa Gus Wabup tersebut, juga meminta agar ada tindak lanjut dari forum tersebut dan tidak hanya menguap setelah forum selesai. “Saya minta 2 atau 3 permasalahan yang dibahas di forum ini, ada tindak lanjutnya, tidak hanya selesai di forum ini. Jadi tidak perlu membahas banyak, yang penting kongkret. Selain itu, Abah Bupati juga punya program 1 dusun satu usaha baru. Ingat usaha baru, bukan yang sudah ada kemudian dibina,” tambahnya.

Usai dibuka oleh Gus Wabup, forum langsung bersambut dengan dialog dan obrolan seputar persoalan warga. Dengan dipandu oleh Purwanto, Asisten Pemerintah Kabupaten Jombang bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat dialog berlangsung gayeng dua arah.

Kepala Desa Cukir Sawung Agus Basuki, menyebut pertumbuhan kos dan penginapan di daerahnya memang cukup tinggi. Keberadaan Pondok Pesantren Tebuireng dan lokasi kawasan wisata religi Gus Dur menjadi pemicu pertumbuhan tempat singgah baik bagi wali santri atau pengunjung wisata. “Selama ini kita sudah lakukan pendataan penyewa kos dan pemiliknya,” ujarnya.

Hanya saja, karena belum ada aturan yang khusus mengatur soal kos dan penginapan membuat pemerintah desa harus menempatkan diri di posisi yang tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

Dampak dari pertumbuhan kos dan penginapan tentunya adalah sampah. Semakin tinggi kunjungan sampah yang dihasilkan juga akan bertambah. “Penting adanya aturan yang pasti sehingga pengawasannya lebih aman,” katanya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, dari pihak kepolisian yang dihadiri oleh Kabag Ops Polres Jombang, Kompol Syarlis, kemudian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Miftahul Ulum, Satuan Polisi Pamong Praja yang diwakili Supakun, Kepala Bidang Penegaran Peraturan Perundang undangan Daerah, kemudian anggota DPRD Kabupaten Jombang Junita Erma Zakiyah dari PPP dan kepala desa se Kecamatan Diwek dan tokoh masyarakat dan agama.

Agus Sholihudin, Camat Diwek mengatakan Jaga Kota Santri ini menjadi cara paling efektif untuk menggali potensi dan permasalahan sekaligus solusi bersama. Warga bisa langsung hadir untuk menyampaikan uneg dan persoalan yang bisa langsung di respon oleh pejabat terkait.

“Jaga Kota Santri ini menjadi cara untuk saling mendekatkan, menerima masukan dan mengusulkan kegiatan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama,” Pungkasnya.

Berita Terkait