Peringatan 40 Hari, Gus Ipang: Gus Sholah Sosok yang Dikenal Komitmennya

Gus Ipang saat memberikan sambutan di peringatan hari ke 40 wafat Gus Sholah, di Ponpes Tebuireng.
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Sebelum menjadi pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, mendiang Dr (HC) Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) lebih dikenal sebagai seorang arsitek. Selain itu, adik kandung Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, juga seorang aktivis, tokoh HAM, serta politisi.

Kala dipilih menjadi Pengasuh Ponpes Tebuireng menggantikan mendiang KH M Yusuf Hasyim tahun 2006 silam, Gus Sholah sempat mengalami perasaan antara percaya dan tidak percaya.

Baca Juga

“Saya tidak percaya kalau jadi kiai di Pesantren Tebuireng. Ketika itu tidak pernah percaya bisa menjadi pengasuh Tebuireng” kata Gus Ipang Putera KH Sholahuddin Wahid, Kamis (12/3).

Gus Ipang menjelaskan, tahun 2006 lala itu almarhum KH Yusuf Hasyim memanggil KH Salahuddin Wahid untuk menanyakan apakah bersedia melanjutkan menahkodai Ponpes Tebuireng. Namun, Gus Sholah tidak menjawab langsung, melainkan meminta waktu untuk lebih dulu berfikir, karena waktu itu ada tawaran menjadi duta besar di Aljazair.

“Saat berfikir panjang, akhirnya Gus Sholah memutuskan siap menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng. Menjadi pengasuh Tebuireng merupakan panggilan dari KH Hasyim Asy’ari yang seharusnya dijalankan, akhirnya almarhum Gus Sholah ke sini,” kenang Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau akrab disapa Gus Ipang, putra Gus Sholah, saat memberi sambutan dalam acara hari ke-40 wafat ayahnya di kompleks makam Ponpes Tebuireng, Kamis (12/3/2020).

Gus pun Sholah diminta untuk ke Pesantren Tebuireng. Saat itu, lanjut Gus Ipang, almarhum Gus Sholah tidur di sana (pesantren) untuk bisa belajar banyak di Ponpes yang didirikan kakeknya, KH Hasyim Asy’ari.

Awal menjadi pengasuh Ponpes Tebuireng, banyak pihak yang meragukan kepiawaian adik Gus Dur ini di dunia pesantren. Namun, Gus Sholah tetap konsisten menjalankan tugasnya hingga Pesantren Tebuireng berkembang.

“Bapak kalau sudah berkomitmen akan serius. Waktu itu, banyak yang meragukan saat awal memimpin Tebuireng. Karena belum paham kepribadian bapak. Bapak menggunakan seluruh jaringannya untuk melakukan sesuatu untuk Tebuireng. Siang dan malam. Alhamdulillah, tidak hanya di Jombang, tapi Tebuireng juga berkembang di luar pulau dengan mendirikan cabang Pondok Pesantren Tebuireng di sana,” papar Gus Ipang.

Gus Sholah yang dikenal dengan hobi menyanyi, kala itu bisa memimpin sebuah Pesantren. Selain itu, sosok Gus Sholah dikenal dengan komitmennya yang tinggi dalam segala hal. Komitmen tersebut tampak saat memimpin Pesantren Tebuireng dan Rektor Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) Jombang.

Bahkan, sebelum wafat, dengan kepiawaiannya sebagai arsitektur, Gus Sholah sempat mengkaji dan menggambar sebuah rektorat Universitas KH Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng.

“Ciri kepemimpinan Gus Sholah adalah jujur dalam sikap, sederhana dalam keseharian, tawadlu bertindak, ikhlas, dan sabar dalam berjuang,” kata Gus Ipang.

Dalam kesempatan itu, Gus Ipang juga memyampaikan banyak terima kasih kepada tokoh agama dan masyarakat atas kehadirannya di acara 40 hari wafatnya Gus Sholah dan mendo’akan mendiang.

“Kami mohon doanya bisa menyelesaikan apa yang menjadi amanah bagi Tebuireng, Nadhlatul Ulama (NU) serta Indonesia,” tandas Gus Ipang.

INSTAGRAM

Berita Terkait