DIWEK, KabarJombang.com – Arus globalisasi dan kemajuan teknologi dinilai membawa dampak besar terhadap perubahan perilaku serta cara pandang masyarakat Indonesia terhadap budayanya sendiri. Anggota DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, mengingatkan pentingnya memperkuat literasi budaya sebagai benteng agar jati diri bangsa tidak terkikis oleh pengaruh luar.
Pernyataan itu disampaikan Wiwin dalam kegiatan sosialisasi literasi budaya dan pembentukan sikap toleransi masyarakat yang digelar di Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, pada Rabu (29/10/2025).
Menurut Wiwin, perkembangan zaman yang serba cepat telah menggeser nilai-nilai luhur bangsa yang diwariskan para pendiri negara. Ia menilai, pola hidup masyarakat kini cenderung meniru budaya asing tanpa mempertimbangkan makna serta nilai-nilai lokal.
“Kita harus ingat bahwa Pancasila dan keberagaman budaya adalah fondasi kehidupan bangsa ini. Kalau kita tidak berhati-hati, nilai-nilai luhur itu bisa hilang ditelan budaya luar,” ujarnya.
Politisi asal Jombang tersebut menyoroti perubahan fungsi kesenian yang dulu menjadi sarana pembentukan karakter, kini lebih sering dikomersialisasi. Padahal, lanjut Wiwin, kesenian sejatinya merupakan media pendidikan moral dan sosial yang efektif.
“Dulu, kesenian jadi alat dakwah dan pembelajaran seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga. Sekarang, banyak yang menjadikannya sekadar tontonan dan alat mencari keuntungan,” ungkapnya.
Wiwin juga menyoroti pergeseran budaya dalam kehidupan keluarga modern. Menurutnya, ketergantungan terhadap gawai membuat interaksi antara orang tua dan anak semakin berkurang, sehingga nilai-nilai kebersamaan dan komunikasi mulai luntur.
“Anak-anak sekarang lebih dekat dengan ponsel daripada orang tuanya. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal perubahan budaya dalam keluarga,” tambahnya.
Selain itu, fenomena media sosial yang menjadi ruang pertukaran budaya global disebut Wiwin sebagai tantangan besar. Tren-tren viral yang cepat menyebar sering kali membuat masyarakat kehilangan kesadaran terhadap akar budayanya sendiri.
“Budaya bisa menular lewat media sosial, dan sering kali tanpa kita sadari kita meniru begitu saja. Padahal, budaya itu bukan sekadar tren, melainkan identitas bangsa,” tegasnya.
Wiwin menekankan bahwa literasi budaya perlu diperkuat agar masyarakat mampu memilah mana budaya yang patut diadaptasi dan mana yang sebaiknya dijaga keasliannya.
“Budaya bukan hanya hiburan, tapi juga tuntunan hidup. Kalau kita tidak menjaga dan memahaminya, lambat laun jati diri bangsa akan pudar,” tutupnya.









