NGORO, KabarJombang.com – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang disambut positif berbagai kalangan pesantren.
Salah satunya datang dari Pengasuh Pondok Pesantren Attahzib Ngoro, KH Ahmad Masruh, yang menilai penyelenggaraan forum tertinggi NU di Kota Santri memiliki makna sejarah yang sangat mendalam.
KH Ahmad Masruh bersyukur sekaligus bangga karena Muktamar NU kembali digelar di Jombang, daerah yang selama ini dikenal sebagai tempat lahirnya para pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
“Saya merasa bersyukur dan bangga karena Muktamar NU dilaksanakan di Jombang. Ini merupakan tempat lahir dan berkembangnya para tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, sehingga sangat tepat menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar,” ujar KH Ahmad Masruh Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, pemilihan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sebagai lokasi pelaksanaan Muktamar juga mengandung nilai historis yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa pesantren tersebut merupakan salah satu peninggalan perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh pendiri NU yang memiliki peran besar dalam sejarah organisasi.
Ia menilai pelaksanaan Muktamar di lingkungan Tambakberas seolah menjadi momentum untuk kembali mengingat semangat perjuangan para muassis NU yang telah meletakkan dasar perjuangan organisasi sejak awal berdiri.
“Ketika Muktamar digelar di Tambakberas, rasanya seperti kembali ke tempat asal perjuangan para pendiri NU. Ada makna filosofis yang kuat dan menjadi pengingat terhadap jasa-jasa para muassis,” katanya.
Selain memberikan apresiasi terhadap lokasi penyelenggaraan, KH Ahmad Masruh berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan penuh kekeluargaan.
Ia juga berharap forum lima tahunan tersebut menghasilkan berbagai keputusan strategis yang mampu memperkuat peran NU di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi organisasi saat ini semakin beragam sehingga dibutuhkan kebijakan-kebijakan yang mampu memperkuat kiprah NU dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, hingga kebangsaan.
“Semoga Muktamar berjalan lancar, aman, tertib, dan menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi warga Nahdliyin serta menjadikan NU semakin maju, kuat, dan semakin dipercaya masyarakat,” tuturnya.
Terkait agenda pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, KH Ahmad Masruh menaruh keyakinan penuh kepada para peserta Muktamar yang memiliki hak suara.
Menurutnya, para muktamirin merupakan tokoh-tokoh yang memahami dinamika organisasi sehingga diyakini mampu menentukan pemimpin terbaik.
“Saya yakin para muktamirin memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memilih sosok yang paling layak memimpin NU lima tahun ke depan,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui memiliki harapan pribadi agar salah satu tokoh asal Jombang mendapat amanah memimpin PBNU.
Baginya, hal tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jombang, terlebih apabila figur tersebut merupakan keturunan para pendiri Nahdlatul Ulama.
“Kalau harapan pribadi, tentu akan membanggakan apabila pemimpin PBNU berasal dari Jombang dan memiliki hubungan dengan para pendiri NU. Namun itu bukan sebuah keharusan,” ungkapnya.
KH Ahmad Masruh juga menilai sejumlah nama asal Jombang yang masuk dalam bursa kepemimpinan PBNU memiliki kapasitas dan pengalaman yang memadai.
Ia menyebut Menteri Haji dan Umrah RI KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan), Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta KH Abdul Salam (Gus Salam) sebagai figur-figur yang layak diperhitungkan.
Menurutnya, ketiga tokoh tersebut memiliki rekam jejak yang baik dalam pengabdian di lingkungan pesantren maupun dalam pelayanan kepada masyarakat.
Secara khusus, ia memberikan penilaian positif terhadap Gus Irfan. Menurut KH Ahmad Masruh, pengalaman Gus Irfan sebagai Menteri Haji dan Umrah menjadi modal penting dalam memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.
“Gus Irfan memiliki pengalaman yang luas. Beliau merupakan keturunan pendiri NU dan saat ini dipercaya sebagai Menteri Haji. Itu menunjukkan kapasitas dan kepercayaan yang diberikan negara kepada beliau,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan ibadah haji tahun ini yang dinilainya berjalan dengan baik berdasarkan informasi dari sejumlah jamaah yang ditemuinya.
“Saya mendengar langsung dari beberapa jamaah bahwa pelaksanaan haji tahun ini berlangsung lebih baik dan nyaman. Itu tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi,” katanya.
Meski memandang latar belakang sebagai dzurriyah pendiri NU sebagai nilai lebih, KH Ahmad Masruh menegaskan bahwa hal tersebut bukan syarat utama untuk memimpin PBNU.
Menurutnya, yang paling penting adalah kapasitas, integritas, serta kemampuan membawa organisasi menjadi lebih baik.
Ia menambahkan bahwa keturunan para pendiri umumnya memiliki ikatan emosional yang lebih kuat terhadap organisasi sehingga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan meneruskan perjuangan para pendahulunya.
“Bukan berarti harus berasal dari dzurriyah. Yang terpenting adalah mampu memimpin. Namun biasanya keturunan pendiri memiliki rasa tanggung jawab moral yang besar terhadap keberlangsungan organisasi,” jelasnya.
Di akhir keterangannya, KH Ahmad Masruh menyerahkan sepenuhnya proses pemilihan kepada para muktamirin.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU menghasilkan kepemimpinan terbaik yang mampu membawa Nahdlatul Ulama semakin maju serta terus memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
“Saya hanya bisa berdoa agar Muktamar ini melahirkan pemimpin terbaik yang mampu membawa NU semakin berkembang, semakin kuat, dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.









