MOJOAGUNG, KabarJombang.com – Sejumlah warga di Dusun Klampisan, Desa Tejo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, mengeluhkan gejala mirip keracunan makanan yang menimpa balita dan lansia setelah mengonsumsi makanan dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu. Gejala yang dialami meliputi demam, muntah, dan diare, bahkan beberapa warga harus menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan setempat.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kejadian bermula pada tanggal 13 Agustus 2025. Keesokan harinya, pada tanggal 14 Agustus, sejumlah anak, termasuk anaknya, mulai mengalami demam, muntah, dan diare. Kondisi ini tak hanya menimpa anak-anak, namun juga dirinya sendiri.
“Tiba-tiba anak saya panas dan muntah. Tidak lama, saya juga mengalami hal yang sama. Awalnya saya kira cuma salah makan, tapi ternyata banyak warga lain mengalami gejala yang sama,” ungkap warga tersebut saat diwawancarai pada Selasa (19/8/2025).
Menurutnya kejadian ini berkaitan dengan makanan dari program PMT Posyandu yang dibagikan kepada balita. Berdasarkan informasi yang dihimpun, makanan berupa nasi goreng tersebut dibeli dari salah satu warga setempat dan dibagikan tanpa prosedur pengawasan mutu yang ketat.
“Katanya makanan PMT itu beli dari warga, tapi tidak ada yang bertanggung jawab. Kader minta sampel nasi gorengnya, tapi sudah tiga hari berlalu, jadi tidak ada yang menyimpan,” tambahnya.
Menurut kesaksiannya belasan anak dan lansia mengalami gejala serupa. Beberapa bahkan harus dirawat karena mengalami dehidrasi akibat muntah dan diare yang tidak kunjung membaik.
Pihak Posyandu dan Kepala Desa setempat saat dikonfirmasi hingga berita ini selesai ditulis belum bisa memberikan jawaban.
Namun berdasarkan bukti tangkapan layar yang diterima di grub Posyandu, Ponedi Kepala Desa Tejo mengatakan dirinya sudah memanggil beberapa kader posyandu tentang musibah yang menimpa beberapa warganya.
“Dan saya menghimbau serta menekankan kepada semua kader tentang PMT kedepannya untuk memasak sendiri sesuai meni dari puskesmas. Agar tidak terulang kejadian musibah seperti kemarin,” ujarnya.
Dirinya berharap para peserta posyandu untuk menyadari, karena musibah tersebut bukan kesengajaan dari ibu-ibu kader.
“Kejadian ini dibuat pelajaran dan evaluasi bagi ibu-ibu kader untuk lebih berhati-hati dalam pengadaan PMT tersebut. Dan jangan sampai kejadin ini terulang lagi,” pungkasnya dalam keterangan di grub tersebut.









