Jadi Penebang Tebu, Perjuangan Emak-emak Asal Bareng Jombang Demi Cukupi Kebutuhan

Kelompok 'Emak Emak' penebang tebu saat ditemui di lokasi panen tebu di Desa Pandanwangi Diwek Jombang (Foto: DianaKN)
  • Whatsapp

DIWEK, KabarJombang.com – Pekerjaan tebang tebu saat panen, lazim dilakukan para kaum pria. Namun, ada yang unik pada panen tebu di sebuah ladang tebu di Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek, Jombang, Minggu (20/9/2020). Para penebangnya, adalah perempuan. Mereka berasal dari Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.

Sampirning (45), Trani (33) dan 14 rekan di kelompok penebangnya ini, rela terjun ke sawah. Mereka tampak lihai mengayunkan arit, memangkas batang tebu satu persatu dari atas akarnya hingga pucuk batangnya. Peluh bercucuran seolah menjadi penyemangatnya bekerja.

Baca Juga

Seluruh tubuh emak-emak penebang ini, nyaris tertutup semua. Selain bertopi bundar berbahan anyaman bambu, separuh wajahnya tertutup kain, Tangannya pun pakai sarung tangan. Namun, hal tersebut rupanya bukan urusan protokol kesehatan Covid-19. Mereka memakai pelindung ala kadarnya, untuk menghindari daun tebu yang bikin gatal-gatal.

Terik matahari, tak menjadi penghalang bagi mereka. Ada waktunya mereka beristirahat di pinggir lahan berbatasan dengan jalan. Seraya beristirahat dan makan, mereka pun menyempatkan guyonan bersama kelompoknya, sekedar melepas penat.

“Yang penting bekerja, lalu dapat ongkos. Hasilnya, kami bawa pulang untuk kebutuhan dapur. Kalau ada lebihnya, untuk bayar sekolah anak,” kata Trani kepada KabarJombang.com, Minggu (20/9/2020).

Kelompok emak-emak penebang ini, lanjut dia, berusia antara 33 sampai 55 tahun. Saban hari saat musim tebang, mereka berangkat mulai matahari terbit dan pulang hingga matahari terbenam. Datang dan pulang, menurut Trani, mereka selalu bersama-sama.

Selain ongkos, mereka juga mendapatkan daun pucuk tebu untuk dibawa pulang. Daun tebu muda itu untuk pakan hewan ternak yang masing-masing mereka peliharan. “Dapat daun tebu ini cuma-cuma. Senang banget, kita dapat ongkos dari pekerjaan, juga dapat daun tebu untuk hewan ternak di rumah,” timpal Sampirning.

Lantaran kaum hawa, trani mengaku, tak ada yang memaksa bekerja sebagai penebang tebu. Pekerjaan yang sepenuhnya mencurahkan tenaga ini, mereka lakoni untuk membantu perekonomian keluarganya. Selain dari penghasilan suaminya.

“Nggak ada istilah terpaksa. Kami seneng-seneng aja membantu suami cari uang. Biar ekonomi keluarga terangkat, karena kebutuhan untuk hidup juga terus bertambah,” tuturnya.

Dikatakannya, selain menebang tebu, dirinya bersama temannya juga “ngeramut” tebu mulai bongkar dan tanam ratoon juga rawat ratoon. Tak hanya tanaman tebu, dirinya juga mengaku kerap menerima order tanam dan tebang tanaman jagung.

“Kita kan ikut orang. Jadi sebelum nebang tebu ya sembarang kalir (apa saja) dilakoni. Waktunya tanam ya ikut tanam, merawat, sampai panen gini. Ya dijalani aja, namanya orang kecil. Yang penting halal dan untuk mencukupi kebutuhan,” ungkapnya.

Soal ongkos kerja, Sampirning mengatakan, hitungannya per kolong (ikat) tebu. Yakni sektiar Rp 2 ribu sampai Rp 2.500. “Tapi tergantung model tebunya juga. Gampang atau tidak untuk ditebang. Kalau yang ini tadi Rp 2.000 per kolong. Biasanya orang-orang dapatnya 35 sampai 45 kolong per hari,” jelas Sampirning sembari mengingat hasil kerjanya per hari.

Meski tampak kuat melakukan pekerjaan yang lazim dilakukan kaum pria ini, Sampirning juga berbagi kisah tak nyaman saat menjalani pekerjaanya tersebut. Terutama soal tebu keras dan susah ditebang.

“Kalau sudah bertemu tebu yang keras dan susah ditebang, nggak heran kadang temen-temen pingin nangis. Selain ngoyo juga non-stop. Meski panas-panasan ya dilanjut aja. Istirahatnya Cuma sebentar, makan habis lanjut nebang lagi. Ya demi dapat banyak,” ujarnya, mata Sampirning pun berkaca-kaca.

Sampirning juga mengaku bersambat badannya terasa capek sesampainya di rumah, jika menebang dengan tanaman tebu yang susah ditebang. Namun, hal itu tak dia rasakan, saat sudah berkumpul dengan sang buah hati.

“Ada aja yang dirasakan di badan. Ya capek, linu-linu, tangan seduten. Tapi, juga nggak perlu dirasakan karena sudah menjadi risiko jadi penebang. Kadang kalau kerasa nggak enak badan banget ya diem-diem mbrebes mili,” Sampirning memungkasi sambil tertawa kecil.

INSTAGRAM

Berita Terkait