JOMBANG, KabarJombang.com – Dalam rangka memperkuat peran pendidikan di era digital, SMP Negeri 1 Kesamben semakin menegaskan eksistensinya sebagai sekolah berbasis digital dan berkarakter. Di bawah kepemimpinan Irawan Budi Santoso, sekolah ini tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga bertransformasi melalui inovasi teknologi dan penguatan budaya positif.
Sejumlah program dan aplikasi inovatif telah diterapkan guna meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat budaya positif, serta mempercepat layanan informasi dan administrasi sekolah.
Kepala SMPN 1 Kesamben menyampaikan bahwa sejak masa pandemi COVID-19, sekolahnya mulai mengembangkan sistem digital secara mandiri. Berawal dari kebutuhan akan sistem e-learning yang ekonomis, penggunaan teknologi digital yang terintegritas ini terhitung sudah berjalan 3 tahun yang lalu.
Teknologi Digital yang Terintegrasi
Transformasi digital di SMP Negeri 1 Kesamben dimulai sejak pandemi COVID-19, yang menuntut sekolah untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring. Alih-alih membeli aplikasi mahal dari luar, sekolah memberikan kepercayaan kepada guru informatika untuk mengembangkan sistem e-learning sendiri, yang kini dikenal sebagai SiBering (Sistem Informasi Belajar Daring). SiBering memungkinkan siswa belajar secara fleksibel melalui materi pelajaran, tugas, kuis, dan forum diskusi.
Sekolah juga telah meluncurkan aplikasi ujian berbasis web dan Android dengan sistem keamanan ketat, seperti pemblokiran screenshot dan pengawasan kamera, demi menjaga integritas ujian daring.
Untuk mendukung literasi, SMP Negeri 1 Kesamben mengembangkan SiLira (Sistem Informasi Library) — aplikasi perpustakaan digital yang memungkinkan peminjaman buku, absensi perpustakaan, hingga membaca e-book lewat perangkat Android.

Kolaborasi Kokurikuler dan Pembiasaan Budaya Positif
Selain penguatan digitalisasi, SMPN 1 Kesamben juga menanamkan budaya positif dalam proses pembelajaran melalui program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH). Program ini meliputi kegiatan seperti upacara bendera dengan muatan cinta tanah air, sholat berjamaah, literasi pagi, senam sehat bugar, hingga pembiasaan sopan santun yang dimulai sejak pagi hari melalui kegiatan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun).
Pihak sekolah mengintegrasikan berbagai kegiatan tersebut ke dalam struktur kokurikuler, di mana seluruh guru terlibat langsung dalam pelaksanaan dan pengawasan. “Dulu upacara dan sholat jamaah itu tidak masuk jadwal KU (kegiatan utama), sekarang sudah masuk dan terjadwal. Semua guru ikut aktif dan merasa bertanggung jawab,” ungkap Supaat salah satu guru penggerak saat di temui pada Selasa (5/7/2025).
Salah satu inovasi baru adalah Literasi Pagi yang bertujuan membangkitkan kembali minat baca siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diminta membaca buku nonpelajaran dan menceritakan kembali isi bacaannya secara bergiliran di kelas. Kegiatan ini dilengkapi dengan absen khusus dan penilaian sikap untuk melatih keberanian serta keterampilan berbicara siswa.

Kartu Pelajar Digital Multifungsi
Salah satu inovasi unik sekolah ini adalah kartu pelajar digital berbasis QR Code, yang digunakan untuk:
1. Absensi digital harian melalui tablet atau HP guru,
2. Absensi kunjungan ke perpustakaan,
3. Transaksi peminjaman buku secara otomatis,
4. Identitas siswa dalam berbagai kegiatan.
“Kartu pelajar digital ini menjadikan proses administrasi jauh lebih praktis dan cepat. Bahkan, orang tua dapat memantau kehadiran anaknya secara real-time,” ujar Siti Alimah, salah satu guru penggerak literasi di sekolah.
Penguatan Literasi dan Kreasi Digital
Program literasi pagi juga berjalan efektif. Setiap siswa membaca bacaan non-pelajaran lalu menceritakan kembali isi bacaan di depan kelas. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kegiatan ini dijadikan bagian dari evaluasi pembelajaran karakter dan speaking.
Untuk mendukung kreativitas digital, sekolah juga mengadakan program kreasi digital, di mana siswa belajar membuat poster digital, video edukatif, dan konten kreatif lainnya. Kolaborasi antara guru seni rupa dan guru teknologi informasi ini tidak hanya menumbuhkan kecintaan pada teknologi, tetapi juga melatih siswa mengelola identitas digitalnya secara bertanggung jawab.

Budaya Positif dan Karakter Siswa
Tidak hanya unggul dalam bidang teknologi, SMPN 1 Kesamben juga menanamkan budaya positif yang menjadi ciri khas sekolah. Program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) diterapkan melalui kegiatan seperti:
1. Solawat pagi, yang dilakukan setiap hari Senin–Kamis pukul 06.30,
2. Presensi digital yang melibatkan guru dan orang tua,
3. Upacara bendera yang dirancang untuk mengembangkan dimensi profil pelajar seperti komunikasi efektif dan cinta tanah air,
4. Shalat berjamaah, yang kini terjadwal sebagai kegiatan kokurikuler resmi.
“Dengan masuknya shalat berjamaah dan upacara ke dalam jadwal KoKurikuler, seluruh guru ikut aktif mendampingi. Ini membuat kegiatan lebih tertib dan penuh tanggung jawab,” ungkap Supaat.
Menuju Sekolah Digital dan Unggul Karakter
Dengan integrasi antara teknologi modern dan penguatan karakter, SMP Negeri 1 Kesamben membuktikan bahwa pendidikan abad ke-21 bukan hanya soal kecanggihan alat, tetapi juga soal nilai dan budaya yang ditanamkan sejak dini. Inovasi teknologi yang dikembangkan secara mandiri ini tidak hanya mempermudah proses pembelajaran dan administrasi, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam menyongsong era pendidikan 5.0.
“Kami ingin seluruh warga sekolah maju bersama, bukan hanya cakap teknologi, tapi juga unggul dalam akhlak dan budaya. Semua yang kami lakukan adalah untuk membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan.” tutupnya.









