Dokter Poli Saraf RSUD Jombang: Parkinson Bisa Dikendalikan, Bukan Akhir Segalanya

Foto : dr. Sigit Hari Nursjamsu, SH, SPN, FINA di Poli Saraf, RSUD Jombang saat lakukan sosialisasi kesehatan. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Penyakit Parkinson masih menjadi momok bagi banyak masyarakat, terutama mereka yang lanjut usia. Dalam upaya memberikan edukasi kepada publik, dr. Sigit Hari Nursjamsu, SH, Sp.N, FINA, menggelar penyuluhan bertajuk ‘Mengenal Penyakit Parkinson: Gangguan Saraf yang Bisa Kita Kendalikan Bersama’, yang berlangsung di Poli Saraf RSUD Jombang, Rabu (3/9/2025).

Acara ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan, termasuk pasien, keluarga pasien, dan masyarakat umum yang ingin mengenal lebih jauh tentang penyakit saraf degeneratif ini.

Baca Juga

Dalam penyuluhannya, dr. Sigit menjelaskan bahwa Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang menyerang sistem saraf pusat. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel otak yang memproduksi dopamin zat kimia penting untuk mengatur pergerakan tubuh mengalami penurunan jumlah secara signifikan.

“Gejala Parkinson tidak hanya memengaruhi gerak tubuh, tetapi juga kondisi mental dan fungsi tubuh lainnya. Karenanya, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini,” ujar dr. Sigit.

Parkinson memiliki dua kelompok gejala utama: gejala motorik dan non-motorik.
Gejala motorik dikenal dengan istilah TRAP:
Tremor: Tangan gemetar saat istirahat
Rigiditas: Kekakuan otot, terasa berat saat digerakkan.

Akinesia/Bradikinesia: Gerakan lambat, wajah tampak datar , Postural Instability: Gangguan keseimbangan, mudah jatuh
Sementara itu, gejala non-motorik meliputi gangguan tidur (seperti mimpi berlebihan atau tidur gelisah), konstipasi, kesulitan menelan, perubahan suasana hati (depresi, cemas), hingga gangguan kognitif seperti mudah lupa atau pikun.

“Gejala non-motorik ini sering luput dikenali padahal sangat memengaruhi kualitas hidup pasien,” jelas dr. Sigit.

Menurut dr. Sigit, faktor usia menjadi risiko utama, terutama mereka yang berusia di atas 60 tahun. Selain itu, riwayat keluarga, pajanan terhadap pestisida, serta jenis kelamin laki-laki juga turut meningkatkan risiko seseorang terkena Parkinson.

Parkinson bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. Pasien menjadi lebih tergantung pada keluarga dan biaya pengobatan cenderung meningkat seiring waktu.

Namun kabar baiknya, meski belum bisa disembuhkan, gejala Parkinson dapat dikendalikan. Obat-obatan seperti Levodopa digunakan untuk meningkatkan kadar dopamin.

Terapi fisik seperti senam dan latihan jalan juga sangat dianjurkan. Selain itu, teknologi medis canggih seperti Deep Brain Stimulation (DBS) dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) kini mulai menjadi pilihan terapi lanjutan bagi pasien yang memenuhi syarat.

“Dukungan keluarga sangat penting. Kesehatan mental pasien bergantung pada lingkungan sekitar. Parkinson bukan akhir segalanya,” tegas dr. Sigit.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga gaya hidup sehat untuk memperlambat progres penyakit. Rutin berolahraga ringan seperti jalan pagi, yoga, atau senam Parkinson, mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan tetap aktif bersosialisasi adalah langkah-langkah penting yang bisa dilakukan pasien dan keluarga.

Penyuluhan ditutup dengan ajakan kepada masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal. Jika mengalami tremor, kekakuan otot, atau perubahan perilaku, segeralah konsultasi ke dokter saraf.

“Parkinson memang tidak bisa disembuhkan, tapi dengan pengobatan yang tepat dan dukungan emosional, pasien bisa tetap hidup mandiri dan bermakna,” pungkas dr. Sigit.

 

Berita Terkait