JOMBANG, KabarJombang.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang menggelar sosialisasi bank sampah di Aula Bung Tomo Gedung Pemerintah Kabupaten Jombang, Selasa (18/11/2025). Kegiatan ini diikuti pengurus PKK dari 22 kecamatan serta perwakilan desa/kelurahan se-Jombang sebagai upaya memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Kepala DLH Jombang, Miftahul Ulum melalui Kabid Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Menis Agus, menyampaikan bahwa sosialisasi tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman PKK mengenai konsep dan mekanisme bank sampah sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu.
“PKK adalah mitra strategis pemerintah dalam menggerakkan masyarakat. Melalui sosialisasi ini, kami berharap PKK menjadi motor penggerak terbentuknya Bank Sampah Unit di desa, sehingga budaya memilah sampah dari rumah dapat berkembang,” ujar Menis Agus.
Berdasarkan data DLH, hingga 2025 terdapat 218 Bank Sampah Unit (BSU) aktif yang tersebar di perumahan, sekolah, OPD, dan pondok pesantren. Sementara di tingkat desa, baru 39 desa yang sudah memiliki bank sampah dan berjalan. Pada kegiatan ini, Desa Sumber Teguh, Kecamatan Kudu, turut melakukan penandatanganan MoU kerja sama dengan Bank Sampah Induk Jombang (BSIJ).
Menis menegaskan bahwa pemerataan bank sampah desa menjadi fokus utama DLH mengingat masih banyak desa yang membutuhkan pendampingan dan pembentukan unit pengelola sampah.
Melalui sosialisasi ini, DLH mendorong terbentuknya jejaring antara Bank Sampah Induk dengan Bank Sampah Unit. Jejaring tersebut diharapkan mempermudah proses edukasi, pemilahan, hingga pemasaran sampah anorganik bernilai ekonomis.
“Bank sampah bukan hanya tempat menabung sampah. Ini adalah gerakan perubahan perilaku yang berdampak pada ekonomi, lingkungan, hingga kesehatan masyarakat,” imbuh Menis.
DLH juga menyoroti sejumlah manfaat bank sampah, mulai dari penambahan penghasilan rumah tangga melalui penjualan sampah terpilah, peningkatan kualitas lingkungan, hingga penguatan budaya gotong royong di masyarakat.
Dalam paparannya, DLH Jombang menetapkan beberapa target pengembangan bank sampah, antara lain.
Menambah jumlah Bank Sampah Unit di tingkat desa/RW, meningkatkan tingkat reduksi sampah yang dibuang ke TPA Banjardowo, mengintegrasikan bank sampah dengan TPS3R, mendorong pilot project kawasan zero-waste di sejumlah desa dan kelurahan.
Sosialisasi ini juga menjadi momentum peningkatan kapasitas pengelola bank sampah, termasuk pendampingan manajemen, pencatatan digital, serta penguatan kelembagaan melalui kolaborasi lintas sektor.
DLH mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari meningkatnya volume sampah setiap tahun, keterbatasan armada dan sarana persampahan, rendahnya kebiasaan memilah sampah di rumah, hingga sampah liar yang masih ditemukan di beberapa titik.
Menis menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat merupakan proses panjang yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Setelah sosialisasi, DLH akan melakukan pendampingan langsung ke desa yang belum memiliki Bank Sampah Unit. Selain itu, monitoring lapangan dan integrasi program lingkungan dengan kegiatan desa akan menjadi fokus lanjutan.
“Kami berharap masyarakat Jombang semakin sadar dalam memilah dan mengelola sampah. Lingkungan bersih tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ini harus menjadi gerakan bersama, dari rumah, RT, desa, hingga tingkat kabupaten,” tegas Menis.
DLH berharap melalui kolaborasi pemerintah, PKK, dan masyarakat, Jombang dapat mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan serta lingkungan yang lebih sehat dan tertata.









