MBG di SPPG Jombatan Jombang Dikeluhkan, Menu Monoton hingga Ayam Mentah

Menu MBG yang dikeluhlan wali murid di SDN Jatiduwur, Kesamben, Jombang. (Istimewa)
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, dikeluhkan sejumlah wali murid. Keluhan tersebut antara lain terkait menu yang dinilai kurang bervariasi, makanan yang disebut pernah basi, hingga ayam yang ditemukan dalam kondisi kurang matang.

Menu MBG yang diterima siswa SDN Jatiduwur diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dusun Sapon, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, yang diketahui dikelola YP Roudlotul Qur’an.

Baca Juga

Salah satu wali murid, DI, mengatakan dirinya beberapa kali menemukan keluhan terkait makanan yang diterima anaknya. Salah satunya ayam yang disebut masih terdapat bagian berwarna merah seperti darah.

“Ini ayamnya masih ada darahnya, masih mentah. Terus menunya itu-itu saja, telur, ayam. Menunya sama tiap hari,” ujar DI.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat anaknya enggan menyantap makanan MBG yang diberikan di sekolah. DI juga mengeluhkan variasi menu yang dinilainya terbatas dan monoton. Menurutnya, menu protein yang diterima siswa lebih sering berupa telur dan ayam. Sementara susu disebut jarang diberikan.

“Harusnya yang sesuai budgetnya. Susu itu enggak pernah dikasih. Selama satu bulan mungkin satu kali. Daging sapi juga jarang sekali,” ujarnya.

Selain lauk, ia menyebut variasi sayuran dan buah yang diberikan juga relatif sama. Kondisi tersebut, katanya, membuat sebagian makanan tidak dikonsumsi anak dan akhirnya dikembalikan dalam keadaan utuh atau dibawa pulang.

DI bersama wali murid lainya mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak SPPG. Namun, menurutnya, keluhan yang disampaikan belum mendapatkan respons sebagaimana yang diharapkan.

“Berkali-kali sudah pernah saya sampaikan. Responnya enggak ada sama sekali,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Ketua Komite SDN Jatiduwur, Erwan Febrianto. Ia mengatakan persoalan yang dikeluhkan tidak hanya mengenai variasi menu, tetapi juga pernah terjadi makanan basi dan makanan yang dinilai kurang matang.

“Menunya tidak bervariatif. Yang pertama itu, yang kedua pernah terjadi basi. Nasi goreng basi,” ujar Erwan Senin (10/8/2026).

Menurut Erwan, kejadian nasi goreng basi tersebut terjadi pada 21 Mei 2026. Ia mengatakan persoalan itu telah disampaikan kepada pihak terkait. Erwan juga menyebut adanya temuan ayam yang kurang matang. Menurutnya, keluhan tersebut bukan hanya terjadi sekali. Salah satu kejadian yang didokumentasikan wali murid disebut terjadi pada 27 Juli 2026.

“Kalau berdarah itu ada, bukan cuma sekali ini saja. Kebetulan yang di-upload wali murid ada tanggal 27 Juli kemarin,” katanya.

Ia menilai makanan yang kurang matang maupun basi seharusnya menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan program MBG.

Erwan juga menyoroti soal keterbukaan informasi mengenai komponen harga makanan yang diterima siswa. Ia berharap terdapat informasi yang memungkinkan masyarakat mengetahui komponen menu dan anggaran yang digunakan.

“Pesan saya untuk Kepala BGN, Anda buat aturan tapi enggak pernah dilaksanakan. Satu saja, menu MBG harus ada label harga. Hampir seluruh Indonesia tidak ada. Bagaimana masyarakat bisa mengawasi?” ujarnya.

Erwan mengatakan program MBG pada dasarnya merupakan program yang baik dan dibutuhkan masyarakat. Namun, menurutnya, pelaksanaan di lapangan harus mendapat pengawasan dan evaluasi agar kualitas makanan yang diterima siswa sesuai dengan ketentuan.

“MBG ini bagus, bagus benar. Orang mana yang enggak mau dikasih makan? Tapi pengelolaannya dari pola SPPG sampai korwil sampai kepala BGN, walaupun ada aturan, kayaknya enggak dilakukan,” katanya.

Sementara itu, Kepala SDN Jatiduwur, Baharyono, membenarkan bahwa pihak sekolah pernah menemukan makanan yang tidak layak dikonsumsi, khususnya pada menu nasi goreng.

“Iya benar, dulu pernah ada nasi goreng basi. Kemudian ya sudah, enggak dimakan sama anak-anak,” ujar Baharyono.

Menurutnya, saat kejadian tersebut hampir seluruh siswa tidak mengonsumsi makanan yang diterima karena sebagian makanan diketahui basi. Selain makanan basi, Baharyono juga mengakui pernah ditemukan lauk yang kurang matang. “Daging ayamnya ada yang kurang matang, ada yang matang,” katanya.

Pihak sekolah, lanjut Baharyono, telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak SPPG. Komite sekolah juga disebut telah menyampaikan keluhan yang sama.

Namun, ketika ditanya mengenai tindak lanjut atau perbaikan setelah keluhan tersebut disampaikan, Baharyono mengatakan sejauh ini belum mengetahui adanya perbaikan yang signifikan.

Terkait variasi menu, Baharyono juga mengakui bahwa menu yang diterima siswa selama ini cenderung menggunakan jenis lauk yang sama, seperti telur dan ayam. “Emangnya kenyataannya seperti itu. Monoton. Menunya seperti itu,” ujarnya.

SDN Jatiduwur sendiri memiliki 57 siswa yang menjadi penerima MBG. Baharyono mengatakan masih terdapat makanan yang tidak dikonsumsi siswa dan sebagian dibawa pulang.

Untuk memperoleh informasi dari pihak penyelenggara MBG, wartawan KabarJombang telah mendatangi lokasi SPPG di Dusun Sapon, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Jombang.

Namun, saat didatangi, pihak yang berwenang memberikan keterangan belum dapat ditemui. Berdasarkan keterangan salah satu penjaga, Kepala SPPG maupun Asisten Lapangan sedang mengikuti rapat di luar lokasi.

Hingga berita ini ditulis, KabarJombang masih berupaya mendapatkan konfirmasi dan penjelasan dari pihak SPPG Dusun Sapon, Desa Jombatan, termasuk mengenai keluhan makanan basi, lauk yang disebut kurang matang, variasi menu, serta tindak lanjut atas keluhan wali murid dan pihak sekolah.

Berita Terkait