Tunanetra di Jombang Menangis Saat Dengarkan Film ‘Istimewa’

Nobar film Istimewa bersama para disabilitas di Jombang
Nobar film Istimewa bersama para disabilitas di Jombang
  • Whatsapp

JOMBANG, KabarJombang.com – Air mata Ida Poryati (58) menetes saat mengikuti nonton bareng (nobar) film ‘Istimewa’ di NSC Linggarjati Plaza, Jalan Wahid Hasyim, Jombang, Senin (21/9/2026). Penyintas tunanetra itu tak dapat melihat seluruh adegan film, tetapi tetap mampu mengikuti jalan cerita melalui suara dan dialog para pemain.

Ida menjadi salah satu peserta nobar yang digelar Rumah Merdeka Indonesia (Rudeka) bersama sejumlah pihak. Film ‘Istimewa’ mengangkat kisah enam anak penyandang disabilitas yang tinggal di Rumah Istimewa dan perjalanan mereka mencari sosok ayah asuh yang selama ini menjadi tempat mereka mendapatkan kasih sayang.

Baca Juga

Meski penglihatannya hanya mampu menangkap cahaya dalam kondisi hitam putih, Ida berusaha membangun gambaran sendiri tentang cerita yang berlangsung di layar. Suara, dialog, dan suasana film membuatnya perlahan larut dalam kisah tersebut.

“Walaupun enggak bisa mengetahui adegan-adegan yang dimainkan oleh mereka, tapi kami bisa mendengarkan dan bisa memaknai jalannya cerita. Sehingga kami merasa terkesan. Sampai-sampai menetes air mata saya,” ujar Ida.

Adegan yang paling menyentuh perasaannya adalah ketika sosok ayah dalam film memberikan kasih sayang kepada anak-anak penyandang disabilitas yang dirawatnya. Ida melihat ketulusan dan kesabaran sosok tersebut sebagai pesan penting dalam memperlakukan anak-anak istimewa.

“Saya merasa tersentuh sekali pada saat seorang ayah memberikan kasih sayang pada anak-anak. Meskipun dalam keadaan seperti itu, tetap dengan sabar dan ikhlas sayang mereka,” tuturnya.

Bagi Ida, pengalaman tersebut bukan sekadar kesempatan menikmati film di bioskop. Cerita yang didengarnya justru membuatnya semakin memahami kehidupan penyandang disabilitas dan menumbuhkan keinginan untuk berbagi dengan mereka.

“Setelah saya mendengarkan semuanya, saya menjadi semakin terkesan dengan anak-anak istimewa dan rasanya ingin berbagi dengan anak-anak istimewa itu,” katanya.

Film ‘Istimewa’ berkisah tentang Aldo, Bimo, Ken, Nita, Mul, dan Ella, enam anak penyandang disabilitas yang tinggal bersama di Rumah Istimewa. Mereka menjalani kehidupan layaknya sebuah keluarga dengan kehadiran Pak Mahendra yang diperankan Mathias Muchus sebagai figur ayah dan Mbak Kinan yang diperankan Yanni Melwani sebagai sosok yang merawat mereka.

Kehidupan mereka berubah ketika kondisi kesehatan Pak Mahendra memburuk dan ia divonis kanker. Tanpa sepengetahuan keenam anak tersebut, Pak Mahendra kemudian pergi.

Tidak ingin kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat mereka pulang, keenam anak itu memutuskan melakukan perjalanan untuk mencari Pak Mahendra. Dalam perjalanan, mereka menghadapi berbagai tantangan sekaligus belajar tentang keberanian, persahabatan, kehilangan, kasih sayang, dan arti keluarga.

Cerita tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi Ida. Kendati tidak dapat menikmati visual film secara utuh, ia tetap menangkap pesan yang disampaikan melalui suara dan dialog.

“Ketika menyayangi anak-anak istimewa itu dengan sepenuh hati, merawat anak-anak disabilitas dengan ikhlas, sehingga bisa juga menjadi contoh bagi ayah-ayah mereka,” pungkas Ida.

Founder Rudeka, Afina Yanur atau akrab disapa Pinut, mengatakan kegiatan nobar sengaja digelar dengan mengajak penyandang disabilitas di Jombang menikmati film ‘Istimewa’ bersama-sama.

Menurut Pinut, film tersebut membawa pesan tentang kesempatan bagi setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, untuk memiliki mimpi dan bangkit menghadapi kehidupan.

“Hari ini kita melihat film ‘Istimewa’ bersama teman-teman istimewa di Jombang,” kata Pinut.

Ia mengaku terharu melihat respons peserta selama film diputar. Bahkan, sejumlah peserta tunanetra ikut menangis meskipun tidak dapat melihat langsung adegan di layar.

“Teman-teman tunanetra meskipun tidak bisa melihat bagaimana film itu berjalan, mereka menangis tersedu-sedu. Teman-teman tuli dan teman-teman netra menikmati seluruh film dengan sangat terharu, masuk ke dalam suasana,” ujarnya.

Menurut Pinut, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menikmati film tidak hanya bergantung pada visual. Pesan, suara, emosi, dan pengalaman manusia tetap dapat dirasakan dengan cara yang berbeda.

Ia berharap film ‘Istimewa’ dapat menjadi penyemangat bagi penyandang disabilitas di Jombang agar terus bangkit dan tidak menyerah mengejar cita-cita.

“Harapan kami dari film ini adalah membangkitkan semangat semua teman-teman istimewa yang ada di Jombang khususnya, untuk terus bangkit dan tidak menyerah pada mimpi kalian, karena kita semua adalah istimewa,” pungkas Pinut.

Berita Terkait