Hadapi Kekeringan, Warga Lereng Gunung Penanggungan Mojokerto Andalkan Sisa Air Hujan

Warga Lereng Gunung Penanggungan Mojokerto, saat ambil air bersih di penampungan air hujan. (Istimewa).
  • Whatsapp

MOJOKERTO, KabarJombang.com-Warga Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, terdampak kekeringan tahun ini.

Untuk mencukupi kebutuhan air bersihnya, sebagian warga desa yang ada di lereng Gunung Penanggungan itu saat ini memanfaatkan air dari penampungan air hujan yang dikumpulkan saat musim hujan.

Baca Juga

Sebagian warga lainnya terpaksa menempuh perjalanan hingga 7 kilometer untuk mengambil air dari sumber mata air terdekat.

Salah satunya dilakukan Firda Lila Sari (25), warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, yang setiap hari membawa 2 jerigen untuk mengambil air ke penampungan air di dusun sebelah dengan jarak tempuh lebih dari 10 menit.

Namun, bila penampungan air di dusun sebelah itu ramai, ia harus menempuh jarak 7 kilometer untuk mengambil air di Sumber Tetek yang ada di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Ia mengakui, warga di desanya mengandalkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

Sebab, kontur geografis wilayah desa tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan pengeboran.

Namun, karena sejak beberapa bulan terakhir di desanya tidak pernah diguyur hujan, ia pun mulai kesulitan air. Sebab, ia sendiri tidak memiliki penampung air hujan permanen.

”Jadi ngangsu (mengambil) air di Dusun Kunjorowesi. Sekitar 10 menit dari rumah. Tapi kalau ramai, ya ambil di Sumber Tetek di Kecamatan Gempol, Pasuruan, jaraknya sekitar 7 kilometer. Bawa sepeda motor, bawa jerigen kadang 2, kadang 4. Setiap hari, kadang pagi kadang sore,” kata Firda Senin (20/7/2026).

Ia mengakui, kesulitan air bersih itu rutin dialami warga Desa Kunjorowesi tiap memasuki musim kemarau.

Saat kemarau, penampungan air hujan yang jadi andalan warga volumenya makin menipis, dan diperkirakan tidak cukup untuk sebulan.

Sejatinya, selain mengandalkan penampungan hujan, warga Desa Kunjorowesi juga mengandalkan perpipaan yang disalurkan dari wilayah Kecamatan Trawas.

Namun, karena jumlah yang tergabung dalam saluran air itu cukup banyak, sementara debit air yang disalurkan terbatas, penyalurannya dilakukan secara bergantian tiap-tiap RT.

Terkadang, penyaluran air bersih di RT setiap 10 hari sekali. Padahal, stok penyaluran ait itu hanya bisa mencukupi kebutuhan air untuk 3 hari.

Selain Firda, Mahfud (43), warga Desa Kunjorowesi, yang lain mengaku lebih sedikit beruntung. Ia masih memiliki sedikit air di penampungan hujan permanen yang dibangun di lahannya.

Namun, air yang tersisa itu diperkirakan tidak cukup untuk dipakai hingga sebulan ke depan.

”Di desa kami itu, untuk air bersih itu, tiap tahun dari sejak dahulu-dahulu itu tidak ada. Sementara ini ada penampung-penampung air hujan milik warga pribadi masih ada, tapi sekitaran sebulan itu habis,” ungkap Mahfudz.

Di musim kemarau saat ini, menurut Mahfudz, selain berupaya mencari air bersih dari sumber mata air terdekat, warga Kunjorowesi juga bergantung pada bantuan air yang disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin menjelaskan, Desa Kunjorowesi jadi salah satu desa di Kabupaten Mojokerto yang terdampak kekeringan tiap tahun.

Selain Desa Kunjorowesi, Desa Manduro Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro dan Desa Duyung di Kecamatan Trawas juga mengalami hal yang sama.

Menurut Rinaldi, desa-desa tersebut tidak memungkinkan memiliki sumber mata air sendiri. Sehingga, pemerintah harus menyalurkan air untuk warga di desa itu.

Dalam penanganan dampak kekeringan tahun ini, menurut Rinaldi, Pemkab Mojokerto menyiapkan anggaran sekitar Rp 300 juta. Anggaran tersebut akan disesuaikan dengan intensitas dan banyaknya penyaluran air bagi desa terdampak kekeringan.

Sementara itu, berdasarkan rilis BPBD Kabupaten Mojokerto, penyaluran air untuk tiga desa itu akan dimulai 22 Juli 2026 mendatang.

Intensitas penyaluran air disesuaikan dengan kebutuhan air di masing-masing wilayah terdampak.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, di Desa Kunjorowesi ada 1.499 KK terdampak, di Desa Manduro Manggung Gajah ada 744 KK terdampak dan di Desa Duyung, Kecamatan Trawas ada 503 KK terdampak kekeringan.

Berita Terkait