JOMBANG, KabarJombang.com- Padepokan sederhana yang berdiri di kawasan dataran tinggi Dusun Blimbing, Desa Karangan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, masih menjaga bara warisan kepercayaan para leluhur Nusantara.
Di tempat itu, para penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa meyakini manekung dan olah rasa sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menjaga harmoni dengan alam.
Penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 135 Tahun 2026 menjadi momentum yang memberi makna tersendiri bagi para penghayat.
Bagi mereka, pengakuan negara tersebut bukan sekadar penetapan hari peringatan, melainkan pengingat bahwa nilai-nilai spiritual warisan leluhur masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sekretaris Pusat Darma Bakti, Ki Slamet Andoko, menuturkan masyarakat Nusantara telah mengenal Tuhan jauh sebelum agama-agama masuk ke Indonesia.
Menurutnya, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa telah hidup melalui laku spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
Dikatakan Ki Slamet Andoko, jauh sebelum agama masuk ke Nusantara yang ada adalah kepercayaan terhadap Tuhan. Orang-orang Jawa atau orang-orang pribumi sudah mengenal Tuhan sebelum ada agama.
Setelah agama masuk, penghayat kepercayaan seakan-akan dilupakan karena dianggap bukan agama, padahal penghayat kepercayaan mengarah kepada kerohanian.
“Namun, penghayat kepercayaan tidak bisa dihilangkan karena sudah mengalir dalam jiwa orang-orang Nusantara,” ujarnya, saat ditemui di Padepokan, Minggu (12/7/2026).
Ia menuturkan, perjalanan para penghayat kepercayaan tidak selalu berjalan mulus. Berdasarkan cerita para pendahulunya, pernah ada masa ketika para penghayat memilih menyembunyikan identitas karena khawatir mendapat stigma dan cemoohan dari masyarakat.
“Dari cerita kakek-kakek dan para pendahulu kami, dulu banyak yang takut mengakui dirinya sebagai penghayat kepercayaan karena mendapat cemoohan. Ada masa ketika oknum-oknum tertentu ingin menenggelamkan penghayat kepercayaan dari bumi Nusantara. Namun, sekarang kami sangat bersyukur karena penghayat kepercayaan sudah diakui dan itu menjadi identitas kami,” tuturnya.
Selain menjaga ajaran leluhur, para penghayat terus melestarikan laku manekung atau olah rasa. Bagi mereka, laku spiritual tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan sarana membersihkan hati, mengenal jati diri, sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Lebih lanjut Ki Slamet Andoko mengatakan, orang-orang dahulu mengenal Tuhan melalui manekung atau olah rasa. Dari situlah manusia membersihkan hatinya hingga menemukan jati dirinya.
“Berbagai ubarampe yang digunakan bukan untuk disembah, melainkan sebagai simbol rasa syukur atas kehidupan yang diberikan Allah melalui alam semesta. Karena itu kami diajarkan menjaga keseimbangan alam. Kalau alam tidak dijaga, dampaknya akan kembali kepada kehidupan manusia,” ucap Ki Slamet.
Filosofi menjaga keseimbangan alam tersebut masih terus diwariskan hingga kini. Bagi para penghayat, alam bukan sekadar tempat hidup, melainkan bagian dari anugerah Tuhan yang harus dirawat sebagai wujud rasa syukur atas kehidupan.
Ki Slamet menyebut sedikitnya terdapat delapan organisasi kepercayaan yang telah terdaftar di Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), di antaranya Darma Bakti, Sapta Darma, Ilmu Sejati, Dulang Projo, Patrem, dan Sangkan Paraning Dumadi.
Khusus Paguyuban Darma Bakti, jumlah anggotanya di Kabupaten Jombang diperkirakan mencapai sekitar 200 orang. Hal tersebut menandakan keberadaan penghayat kepercayaan di Kabupaten Jombang masih terjaga lestari hingga saat ini.
Di balik pengakuan negara melalui penetapan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Ki Slamet berharap nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah, tetapi terus mendapat ruang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ki Slamet Andoko berharap masyarakat semakin memahami bahwa penghayat kepercayaan juga merupakan bagian dari bangsa ini.
Tradisi dan laku yang kami jalankan adalah warisan leluhur yang mengajarkan manusia mengenal Tuhan, menjaga alam, dan hidup berdampingan dengan sesama.
“Menurut kami, para penggerak kemerdekaan Indonesia juga berasal dari kalangan penghayat kepercayaan. Semoga pemerintah selalu adil kepada kami semua,” pungkas Ki Slamet Andoko.









