Panen Raya Bawang Merah di Jombang Terkendala Harga Rendah dan Cuaca Tak Bersahabat

Foto : Petani bawang merah di Desa Purisemanding, Plandaan, Jombang. (Istimewa)
  • Whatsapp

PLANDAAN, KabarJombang.com – Produksi bawang merah di Desa Purisemanding, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, mengalami peningkatan signifikan pada musim panen kali ini. Sayangnya, hasil melimpah tersebut belum sejalan dengan kesejahteraan petani akibat anjloknya harga jual serta tekanan cuaca ekstrem selama masa tanam.

Aan Purnomo, salah satu petani setempat, menyampaikan bahwa panen bawang merah pada usia tanam sekitar 58 hari terbilang cukup berhasil. Namun, curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus disertai serangan hama ulat membuat proses budidaya penuh risiko.

Baca Juga

“Biasanya dari bibit 1,5 kuintal bisa menghasilkan sekitar 1,5 ton. Tapi harga di tingkat petani sekarang hanya berkisar Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kilogram,” ujar Aan, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, biaya produksi bawang merah tidaklah kecil. Harga bibit mencapai Rp 45.000 per kilogram, sementara total pengeluaran mulai dari pengolahan lahan hingga panen dapat mencapai Rp 25 juta. Dengan kondisi harga saat ini, keuntungan petani sangat minim, bahkan mendekati titik impas.

“Petani berharap ada kestabilan harga agar tidak terus merugi,” tambahnya.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Plandaan, Yus Ardi Baskoro. Ia menjelaskan bahwa total luas lahan tanam bawang merah di wilayah Plandaan mencapai sekitar 30 hektare, dengan Desa Darurejo sebagai sentra produksi utama. Selain itu, komoditas ini juga dibudidayakan di Desa Kampung Baru, Purisemanding, dan Klitih.

Yus menuturkan, tantangan terbesar penanaman bawang merah di awal tahun adalah faktor cuaca. Tingginya intensitas hujan membuat tanaman rentan terserang penyakit jamur serta hama ulat grayak.

“Musim hujan memperbesar risiko serangan jamur, ditambah ulat grayak yang cukup mengganggu pertumbuhan tanaman,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, petani dianjurkan melakukan pengendalian hama secara rutin melalui penyemprotan fungisida dan insektisida. Selain itu, PPL juga mendorong penerapan metode pengendalian alami untuk menekan penggunaan bahan kimia.

“Pada kondisi normal, lahan seluas 0,14 hektare atau sekitar 1.400 meter persegi dapat menghasilkan 1,6 hingga 2 ton bawang merah. Namun jika terserang hama, produksi bisa turun menjadi 1 sampai 1,5 ton,” ungkap Yus.

Meski dihadapkan pada berbagai kendala, Yus optimistis pengembangan bawang merah di Kecamatan Plandaan masih memiliki prospek cerah. Karakter tanah liat yang cocok serta sistem irigasi tadah hujan menjadi keunggulan wilayah ini. Tak hanya itu, ketertarikan generasi muda terhadap sektor pertanian bawang merah juga terus meningkat.

“Masa tanam bawang merah relatif singkat, sehingga pengendalian harus cepat dan tepat. Alhamdulillah, semakin banyak petani milenial yang tertarik karena potensi ekonominya,” katanya.

Dengan hasil panen yang melimpah, para petani berharap harga bawang merah di pasaran dapat kembali stabil, sehingga pendapatan petani tetap terjaga di tengah tantangan cuaca ekstrem dan serangan hama.

Berita Terkait