PLANDAAN, KabarJombang.com – Memasuki Musim Tanam Padi (MP1) tahun 2026, petani di Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, menghadapi ancaman serius dari serangan penyakit kresek. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas ini mulai terdeteksi di sejumlah lahan pertanian dan menimbulkan kekhawatiran akan turunnya produktivitas panen.
Serangan tersebut banyak ditemukan pada tanaman padi yang menggunakan varietas galur, jenis benih yang cukup populer di kalangan petani setempat. Kondisi cuaca yang didominasi mendung dalam beberapa hari terakhir diduga mempercepat perkembangan penyakit.
Salah satu petani Plandaan, Heri Santoso, mengungkapkan bahwa gejala awal kresek terlihat dari perubahan warna daun yang menguning lalu mengering. Ia menilai faktor cuaca berperan besar terhadap kemunculan penyakit tersebut.
“Awalnya daun tampak menguning dan lama-kelamaan kering. Setelah diperiksa, ternyata terkena kresek. Cuaca yang sering mendung membuat penyakit ini cepat berkembang,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak serangan, petani telah melakukan penyemprotan bakterisida secara rutin. Namun demikian, Heri mengakui bahwa praktik budidaya yang kurang ideal turut memperbesar risiko serangan.
“Pemupukan nitrogen berlebihan dan jarak tanam yang terlalu rapat membuat tanaman lebih rentan terhadap bakteri maupun jamur,” jelasnya.
Meningkatnya kasus kresek memunculkan kekhawatiran petani terhadap potensi penurunan hasil panen. Mereka berharap adanya langkah kolektif, seperti penyemprotan serentak, guna menekan penyebaran penyakit secara lebih efektif.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Plandaan, Yus Ardi Baskoro, membenarkan adanya temuan penyakit tersebut. Ia menyebutkan bahwa serangan kresek terkonfirmasi saat pemantauan lapangan yang dilakukan pada Jumat (30/1/2026).
Berdasarkan data, luas tanam padi MP1 di Kecamatan Plandaan mencapai 2.174,73 hektare, dengan mayoritas petani menggunakan varietas galur yang belum memiliki sertifikasi resmi dari Kementerian Pertanian.
“Varietas galur cenderung lebih sensitif terhadap serangan Xanthomonas. Saat ini, gejala sudah terlihat pada daun bendera di beberapa area,” ungkap Yus Ardi saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).
Pihak penyuluh telah menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada petani, di antaranya penggunaan benih bersertifikat yang sesuai dengan kondisi wilayah serta intensifikasi penyemprotan fungisida pada tanaman yang telah terserang, minimal dua kali dalam sepekan.
Menurut Yus Ardi, kerusakan pada daun bendera merupakan ancaman serius karena berperan penting dalam proses pengisian bulir padi.
“Jika daun bendera terganggu, penyerapan nutrisi tidak maksimal dan hal ini berdampak langsung pada hasil panen,” tegasnya.
Selain penyakit kresek, hama tikus juga masih menjadi tantangan bagi petani di Plandaan. Dari sisi produksi, lahan dengan irigasi teknis mampu menghasilkan sekitar 7–8 ton gabah per hektare, sementara sawah tadah hujan berkisar 6,5–7 ton per hektare.
Kasus ini menjadi pengingat bagi petani untuk lebih selektif dalam memilih benih serta menerapkan pengendalian organisme pengganggu tanaman sejak awal musim tanam.
“Petani diimbau segera melapor dan berkoordinasi dengan PPL apabila menemukan gejala serupa di lahannya,” pungkas Yus Ardi.









