MOJOWARNO, KabarJombang.com – Di sebuah Dusun Mojojejer, Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang terdapat sebuah rumah produksi kerajinan tangan bernama Padhang Jingglang yang dipenuhi potongan kertas karton, stereofoam, stik es krim, dan aneka cat warna-warni. Dari tempat sederhana inilah, Catra Hermawan (38) menyalurkan kreativitasnya menjadi karya diorama 3D yang kini tak hanya diminati pelanggan lokal, tetapi juga sampai ke mancanegara.
Catra bercerita, ketertarikannya pada dunia kerajinan ini bermula dari situasi sulit saat pandemi Covid-19 pertama kali melanda. Kala itu, ia merupakan seorang yang berstatus sebagai karyawan dan khawatir akan dirumahkan. Kecemasan tersebut justru membawanya pada hobi lama yang sempat terpendam.
“Saya cari kesibukan yang berhubungan dengan hobi. Terus lihat limbah-limbah di sungai kok banyak. Daripada nggak berguna, coba saya olah. Akhirnya jadi karya seperti ini,” ujar Catra saat ditemui di rumah produksinya pada Rabu (26/11/2025).
Bahan-bahan yang ia manfaatkan pun beragam. Mulai dari stereofoam bekas kulkas dan televisi, gabus, kertas karton, hingga barang-barang sisa yang banyak ditemui di sekitar lingkungan rumahnya. Dari limbah sederhana itu, lahirlah miniatur kapal, diorama tiga dimensi berbagai tema, kaligrafi, hingga lampion dari stik es krim.
Catra menjelaskan, proses pembuatan diorama dimulai dari pencarian referensi, biasanya melalui media sosial. Banyak pelanggan yang memesan tema sejarah, seperti Majapahit atau era medieval Eropa yang pernah ia kerjakan sebelumnya.
Setelah menentukan konsep, barulah ia memilih bahan yang cocok. Khusus untuk pesanan luar negeri, ada persyaratan bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak mengandung bahan kimia tertentu. Penggunaan resin, misalnya, kerap ditolak pihak bea cukai luar negeri.
“Paling cepat itu 10 hari pengerjaan. Tapi kalau detail banget, bisa satu sampai dua tahun. Pernah ada yang sampai tiga tahun baru selesai,” katanya.
Kendala terbesar justru pada bahan baku. Jika dulu ia mudah sekali menemukan limbah stereofoam, kini keberadaannya semakin sulit sehingga ia terpaksa membeli dari warga yang masih menyimpannya di rumah.
Pesanan yang datang pun sangat beragam. Ada yang memanfaatkan diorama 3D buatannya sebagai pajangan rumah, media edukasi, pemasaran perumahan hingga hotel. Tak sedikit pula yang memesan khusus untuk keperluan film. “Kebetulan ada proyek film dari luar negeri yang pakai karya saya juga,” tambahnya.
Untuk pasar lokal, harga karya Catra relatif terjangkau, mulai Rp200.000 hingga Rp500.000 untuk ukuran kecil. Untuk ukuran besar, harganya berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Sementara karya dengan detail tinggi bisa menyentuh Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung kompleksitas konsep dan pewarnaan.
Pendapatan Catra pun fluktuatif, bergantung pesanan. “Yang paling rame bisa dapat Rp20 juta sampai Rp25 juta per bulan. Kalau ada order luar negeri, bisa sampai Rp80 juta,” ungkapnya.
Di tengah derasnya arus digital, Catra Hermawan membuktikan bahwa kreativitas dan ketekunan mampu mengubah limbah menjadi karya bernilai seni tinggi. Dari Mojojejer, karyanya mengalir hingga ke mancanegara menjadi saksi bahwa peluang besar bisa datang dari tangan yang lihai mengolah hal-hal kecil di sekitar.









