DIWEK, KabarJombang.com – Tren hampers pernikahan kini semakin beragam. Tidak lagi identik dengan kue, cokelat, atau rangkaian bunga. Sepasang suami istri di Kabupaten Jombang berhasil menghadirkan inovasi baru hampers berisi telur asin. Ide kreatif ini menjadikan produk sederhana tampil elegan dan diminati banyak calon pengantin untuk acara lamaran hingga pernikahan.
Usaha tersebut dijalankan oleh Eva Nurfatika Sari, pemilik Rumah Produksi Telur Asin Pratama, yang berlokasi di Jalan Proklamasi, Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang. Di rumah produksi sederhana miliknya, setiap hari Eva dan suami mengolah ratusan telur bebek menjadi telur asin sekaligus merakit kemasan hampers yang cantik.
Pembuatan telur asin dimulai dari proses fermentasi dengan media abu selama sepuluh hari. Telur-telur bebek dilumuri abu kemudian didiamkan dalam wadah tertutup untuk menghasilkan rasa asin yang merata dan tahan lama. Setelah proses pendiaman selesai, telur dibersihkan, diseleksi menggunakan cahaya senter, lalu dikukus hingga matang sebelum diberi label stiker.
“Per butir kita jual Rp 3.000. Untuk hampers ada isi empat, lima, enam, sampai sepuluh butir dengan harga mulai Rp85.000 hingga ratusan ribu,” jelas Eva saat ditemui di rumah produksinya pada Senin (17/11/2025).
Kreasinya semakin menarik ketika telur-telur asin tersebut ditata dalam kemasan khusus dan dihias menggunakan bunga serta ornamen dekoratif. Hasilnya adalah paket hampers estetik yang terlihat mewah, dan inilah yang membuat produk Eva diminati banyak pasangan calon pengantin.
Menurut Eva, ide tersebut ia peroleh setelah melihat berbagai referensi di media sosial. Namun ia tetap berusaha menciptakan desain yang berbeda.
“Ini kan sesuatu yang unik ya, telur asin dijadikan hampers. Di Jombang masih jarang. Ada referensi dari TikTok, tapi saya ubah supaya nggak jiplak. Saya buat beda,” ujarnya.
Pemasaran produk dilakukan melalui Instagram dan TikTok. Konten video yang menarik membuat produknya viral dan mendapat banyak pesanan, bahkan hingga luar kota seperti Surabaya dan Jakarta.
Usaha yang baru berjalan sejak Juni 2025 itu kini mampu menghasilkan omzet hampir Rp 5 juta per bulan. Kendati begitu, Eva mengaku masih memiliki kendala, terutama karena belum memiliki bebek sendiri sehingga harus membeli telur dari peternak. “Kendalanya di harga. Harga telur bebek sekarang naik,” tuturnya.
Kreativitas Eva dalam mengolah produk lokal menjadi barang hantaran bernilai jual tinggi menunjukkan bahwa peluang usaha rumahan masih sangat besar jika dikembangkan dengan ide dan kemasan menarik.









