Dawet Legend Ngledok Mojokrapak Jombang, Kesegaran Lintas Generasi yang Tetap Laris di Segala Cuaca

Foto : Pelanggan saat menikmati kesegaran dawet legend ngledok, Mojokrapak, Tembelang, Jombang. (Kevin Nizar)
  • Whatsapp

TEMBELANG, KabarJombang.com – Di tepi Jalan KH Wahab Chasbullah, Dusun Ngledok, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Jombang, terselip sebuah warung sederhana yang tak pernah kehilangan pengunjung. Di bawah rindangnya pepohonan dan tugu perbatasan, segelas es dawet tersaji, dingin, manis, dan sarat cerita panjang yang mengalir dari generasi ke generasi.

Dialah Dawet Legend Ngledok, kuliner tradisional yang sudah ada bahkan sebelum sang penjual, Sumarjoko, lahir ke dunia.

Baca Juga

“Aslinya sudah lama, sejak nenek moyang saya. Kira-kira sudah ada sejak tahun 1950-an, bahkan mungkin sebelumnya,” tutur Sumarjoko, penjual es dawet generasi ketiga yang kini meneruskan usaha turun-temurun keluarganya saat diwawancarai pada Minggu (16/11/2025).

Berbeda dari banyak dawet modern yang kini mengandalkan tepung tapioka, Dawet Ngledok tetap bertahan pada ciri khas lamanya dari tepung beras. Teksturnya lembut namun kenyal, berpadu manis dengan kuah gula Jawa berwarna hitam pekat.

“Yang bikin beda itu gulanya. Kita pakai gula Jawa. Warnanya hitam, bukan coklat seperti kebanyakan. Kalau warnanya nggak hitam, kurang cakep kalau dipadukan sama dawet,” jelas Sumarjoko.

Perpaduan dawet beras, gula Jawa hitam, mutiiara, hongkoe, bubur dan santan inilah yang menciptakan keaslian rasa yang sulit ditiru. Selain itu, menurut para pelanggan, gulanya pun tidak bikin batuk.

Meski identik sebagai pelepas dahaga saat panas, Sumarjoko mengatakan dawetnya tetap dicari meski hujan turun. “Cuaca penghujan tetap laku. Cuma ya nggak seperti musim kemarau. Tapi pembeli tetap ada,” ujarnya.

Dyah Arum, salah satu pelanggan, mengaku ketagihan minum dawet di sini karena resep jadulnya yang masih dipertahankan. “Dawetnya masih legend, masih pakai tepung beras. Ada hongkoe atau guder, terus ada bubur sum-sum. Gulanya pakai gula Jawa asli, rasanya seger dan nggak bikin batuk,” katanya.

Tak hanya menyegarkan, segelas dawet seharga Rp5.000 ini juga kerap menjadi pelepas lelah warga setelah beraktivitas.

“Abis aktivitas langsung ke sini cocok banget. Seger, enak, cuaca panas atau dingin tetap masuk,” tambah Dyah.

Selain es dawet, warung ini juga menjual berbagai jajanan tradisional seperti gorengan, kue kucur, lempung, hingga aneka kue pasar yang menambah suasana nostalgia.

Warung buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00–17.00. Meskipun sederhana, kehadirannya menjadi saksi betapa kuliner tradisional bisa bertahan melintasi waktu, cuaca, dan generasi.

Dawet Ngledok bukan sekadar minuman ia adalah warisan rasa, cerita masa lalu, sekaligus pelepas dahaga yang tak lekang oleh perubahan zaman. Segelas dawet di bawah teduhnya pohon dan ramainya jalan raya, membawa siapa saja kembali pada kesederhanaan yang menenangkan.

Berita Terkait