BARENG, KabarJombang.com – Suasana Lapangan Sepak Bola Dusun Serning, Desa Banjaragung, Kecamatan Bareng, Jombang dipenuhi dengan rasa semangat kemerdekaan yang berpadu dengan kegiatan upacara kemerdekaan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Bukan hanya kegiatan upacara saja, acara yang digelar oleh Ranting NU Banjaragung pada Minggu (17/8/2025), juga menggelar lomba kreasi kue sebagai penanda penutupan rangkaian kemeriahan hari kemerdekaan.
Nampak di atas meja panjang tersaji berbagai macam kue warnai-warni, hasil olahan polo pendem atau umbi-umbian lokal yang familiar dengan masyarakat desa, seperti masyarakat Desa Banjaragung.
Melalui kreasi lomba kue, warga tidak hanya merayakan HUT ke-80 RI dengan kemeriahan gegap-gempita, tetapi juga meneguhkan kecintaan pada pangan tradisional yang sarat akan makna kebersamaan.
Achmadu Choir selaku ketua Ranting NU Banjaragung menjelaskan alasannya mewajibkan olahan kue dari bahan baku polo pendem untuk dilombakan. Menurutnya, polo pendem menjadi salah satu makanan turun temurun dari para pendahulu, sehingga makanan tersebut menjadi salah satu makanan tradisional yang sampai saat ini masih eksis bagi semua kalangan masyarakat.
“Polo pendem menjadi salah satu makanan yang bersifat turun temurun, mulai dari bapak-bapak kita, kakek buyut kita, mereka sudah mampu mengolah polo pendem menjadi sebuah makanan yang kaya akan gizinya. Kami mewajibkan semua jenis polo pendem, seperti singkong, ubi jalar, talas, ganyong, kacang-kacangan, dan labu. Mereka bebas membuat inovasi kue terpenting bahan dasarnya adalah polo pendem,” ujarnya.
Kue-kue berjejer rapi memenuhi meja yang sudah disediakan oleh panitia. Total terdapat 41 kue yang dibuat oleh warga desa. Bukan hanya warga Desa Banjaragung saja yang mengikuti rangkaian kegiatan kemerdekaan RI di Desa Banjaragung, terdapat warga desa lainnya turut memeriahkan acara tersebut.
Olahan kreasi kue berbahan baku polo pendem memperlihatkan persaingan ketat antar warga desa. Hal itu dibuktikan dengan berbagai macam plating makanan yang bagus dengan warna-warna mencolok.
Kasiyanto salah satu juri yang menguji setiap makanan kue hasil dari kerjasama para warga. Terdapat beberapa kategori sebagai penentu kemenangan.
“Kategori dalam penilaian dimulai dari plating makanan atau seni menata makanan, kreativitas pengelolaan polo pendem contohnya mungkin seperti singkong selain dijadikan tepung tapioka bisa dijadikan olahan makanan apa saja yang unik dan bagus layak untuk disajikan sebagai makanan, serta penilaian ketiga yakni rasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan semua makanan tersebut memiliki cita rasa yang enak, sehingga sempat membuat para juri lainnya kewalahan menentukan siapa pemenangnya.
Sementara itu, Hasan Sulaiman selaku Kepala Desa Banjaragung merespon positif dengan adanya lomba kreasi kue berbahan dasar polo pendem. Ia berharap agar nantinya kue tersebut bisa menjadi salah satu UMKM yang bisa mningkatkan penghasilan warga desa.
“Pastinya saya sangat berterimakasih kepada warga Desa Banjaragung karena setiap tahunnya selalu diadakan kegiatan upacara memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Terlebih tahun ini ada yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, salah satunya yakni adanya lomba kreasi kue dari bahan dasar polo pendem seperti singkong, ubi jalar, dan labu. Semoga itu semua bisa meningkatkan perekonomian masyarakat kami melalui UMKM,” pungkasnya.
Selepas penilaian yang dilakukan oleh dewan juri, semua aneka kue tersebut dinikmati oleh semua masyarakat yang hadir, mulai dari peserta upacara, petugas upacara, warga sekitar, dan para penjual yang ada di lokasi. Terlihat suasana guyub rukun menaungi mereka ditambah candaan gurau yang mempererat interaksi sosial.









