Pat Gulipat Seni Merubah Diri Atau Hanya Permainan

Cak Besut
  • Whatsapp

Senja mulai menampakkan kebesarannya, matahari pun seakan tahu bahwa rembulan sudah menggantikannya. Di ujung desa yang awalnya ia tak pernah tahu sama sekali, berdiri sebuah rumah sederhana. Waktu berlalu, tahun berganti tak terasa ternyata dua tahun silam merupakan titik balik Cak Besut menata hidupnya. Dua tahun sudah dirinya tergolek tanpa sadar. Ia masih ingat beberapa waktu setelah kejadian tersebut, dia dibonceng oleh Rusmini untuk sekedar memulihkan ingatannya.

“Cak ngerti ta iki nang ndii..?” tanya Rusmini kala itu. Cak Besut hanya diam membisu seolah manusia baru lahir. Rusmini dengan telaten menjelaskan bahwa itu adalah area makam Gus Dur. Ia pun tak lupa bagaimana telaten dan tak ada kata jijik, saat Rusmini mengganti popok Cak Besut bahkan memandikan Cak Besut. 2 tahun silam adalah puncak dari keruwetan Cak Besut. Perlahan dia bangkit dia pulih seperti sedia kala. Jangan tanya bagaimana prosesnya tapi dua tahun lamanya Cak Besut akhirnya sembuh total.

Baca Juga

“Alhamdulillah aku sehat,” gumam Cak Besut saat ini. Tak lama kemudian, Cak Besut sudah berkumpul kembali di warung pojok Rusmini. Ia mulai bercengkrama dengan tiga sobat karipnya itu, Man Gondo, LeK Sumo tak lupa si centil Rusmini yang sibuk ‘Cuthik Geni’ alias menyalakan api untuk membuat kopi ditengah kesibukannya melayani pembeli. “Ayo Cak ndang mulai cerito nabi-nabi maneh, kangen puol aku,” ujar Man Gondo sambil tertawa. “Lah iku wes suwi Cak gak tau krungu sampean cerito opo maneh iki wes ganti Adipati ne” tambah Lek Sumo menimpali.

Cak Besut hanya terkekeh mendengar celoteh temannya. Tiba-tiba Cak No datang sambil menggerutu “Dob**ll Njaran, tak piker pemerintahan Abah Suge iku asli gawe ngangkat kadipaten Njomplang, tibakne podo ae koyok Muntiah enek ae dulinane iki, mosok yo kabeh dijaluki setoran,”. Cak Besut terpaku, raut muka skeptis pun menatapnya. “Dijaluki setoran, seng temen cak riko lek ngomong, koyok cerito dongeng ae,” tambah Cak Besut. “Lah aku loh mosok mbujuk, tapi kabeh joglo diparani pokok e wes entek diangkuti,” sungut Cak No. Sembari terus berceloteh tentang kurir Abah Suge, Cak No pun menyinggung perihal penggantian orang-orang yang bakal menemani pemerintahannya.

“Sek talah siji-siji ae lek cerito, seng njupuk iku wonge dewe opo wong liyo? terus seng bakal ganti iku wong seng temen-temen mbelani opo sekedar ngunu ae ?,” sergah Cak Besut. Sambil menghela nafas panjang, Cak No pun duduk sembari membetulkan tempat duduknya. Ia lalu mulai bercerita, Elpang salah seorang utusan dari Abah Suge mendatangi joglo-joglo disekitar kadipaten berada. Setelah ngobrol ini itu, mereka bertujuan untuk mengambil setoran yang harus dipungut dari para pemimpin joglo tersebut. “Sek sek Cak, berarti seng njupuk duduk Abah Suge dewe, tapi Elpang iku maeng ?,” tanya Cak Besut. Cak No hanya mengangguk dan kemudian mengambil sebatang rokok favoritnya. Ia pun mulai menghembuskan rokok tersebut.

Mendapat jawaban dari Cak No, Cak Besut akhirnya memilih diam, tak berselang lama ia pun akhirnya angkat bicara. “Cak, pean seng dadi pimpinan Joglo kudune gak oleh ngomong ngunu, iso ae Elpang seng bermain dewe, gak mungkin Abah Suge luweh kebacut timbang Muntiah, pean yo ngerti dewe asete Abah, durung mesti Abah Suge berprilaku koyok ngunu, tapi mboh maneh lek abahe yo butuh iku,” gumam Cak Besut dan langsung disambut tawa ngakak oleh Cak No, Mam Gondo dan Lek Sumo.

Mangan tahu karo ndelok sawah
Oleh iwak diteri yuk pangat
Podo dijogo ben kadipaten iki tetep megah
Tapi ojo model pat gulipat

*Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Berita Terkait